KELOMPOK STUDI MAHASISWA MERDEKA (KSMM) STKIP WIDYA YUWANA PERINGATI HARI PAHLAWAN

Penulis: Aris ; Tanggal 11 November 2020

Peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2020 terus menggelorakan semangat kepahlawanan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya dari cengkeraman penjajah. Sebagai sikap dari kaum muda yang berjiwa nasionalis, mahasiswa STKIP Widya Yuwana yang tergabung dalam Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM), mengadakan diskusi yang dibingkai dengan acara bedah lirik lagu Tele yang dipopulerkan oleh Jefar Lumban Gaol, seorang musisi asal Sumatera Utara.

Dalam lagu itu diceritakan mengenai kecintaan warga atas tanah Tele yang berada di Kabupaten Samosir. Tanah-tanah rakyat dan ulayat yang disebutkan sebagai napuran tanotano ranging marsiranggongan yaitu tanah tempat sirih tumbuh subur dan semakin panjang berkembang. Pada video klip lagu tersebut juga ditampilkan kehidupan masyarakat yang hidup dari hasil pohon damar. Kehidupan yang damai itu harus terusik dengan digusurnya hutan damar untuk dijadikan area non hutan. Ini merupakan gambaran perjuangan masyarakat Tele dalam mempertahankan keberadaan tanah ulayat dan hak-hak adat mereka. Tema inilah yang menjadi fokus diskusi KSMM.

KSMM mengundang Bapak Dr. Drs. Ola Rongan Wilhelmus, M.Sc (Ketua STKIP Widya Yuwana) dan Dodi Wisnu Pribadi (mantan wartawan Harian Kompas) sebagai pembicara. Dalam diskusi kali ini Pak Willem menyampaikan bahwa giatnya pembangunan di sebuah daerah juga harus diimbangi dengan usaha untuk melindungi kepentingan masyarakat berserta hak-hak atas adat dan budayanya. “Untuk memperkuat posisi masyarakat ini diperlukan sebuah gerakan civil society yang memang berkomitmen membela kepentingan masyarakat. Dengan adanya sebuah gerakan sosial bersama, maka posisi masyarakat akan seimbang dengan kepentingan pemilik modal dan pemangku tata laksana pemerintah”. Lebih lanjut Pak Willem menjelaskan posisi mahasiswa sebagai kekuatan intelektual dalam gerakan civil society ini harus benar-benar mampu menjunjung nilai-nilai keadilan, kejujuran, kritis dan berdisiplin kerja yang tinggi. “Dengan semangat Hari Pahlawan dan kepahlawanan masyarakat dalam mempertahankan hak-haknya, untuk saat ini keseimbangan antara negara, rakyat dan modal harus dijaga, dan tugas mahasiswa adalah menjaga posisi rakyat agar bisa berimbang dan gerakan civil society harus tetap ada,” tandas Pak Willem.

Sementara itu, pembicara kedua, Dodi Wisnu Pribadi mengungkapkan bahwa saat menerima modernisasi, masyarakat pada saat yang bersamaan harus menerima pil pahit modernisasi tersebut, yakni kerusakan lingkungan hidup dan munculnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Hal ini sudah terjadi saat industri perkebunan dijalankan di Indonesia yang saat itu masih dalam status koloni Belanda. Lantas dilanjutkan hingga saat pertambangan semakin marak. “Alam dan masyarakat banyak mengalami eksploitasi. Hal tersebut sudah berlangsung lama, dan saat ini dampak sosial dan lingkungan hidup yang telah menumpuk itu mulai serius dibenahi dan diharmoniskan kembali,” kata Dodi. Ia juga  mengungkapkan bahwa saat ini cara mengelola sumber daya alam menggunakan ukuran ramah lingkungan dan kehidupan. Dengan adanya pola baru ini peran pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah yang berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat juga berusaha untuk menjaga hak hidup masyarakat itu sendiri. Dalam hal penguatan posisi masyarakat Dodi juga sepakat dengan penguatan gerakan civil society. “Agar lebih partisipatif maka pengembangan potensi-potensi lokal yang ada di masyarakat juga harus ditumbuh kembangkan. Ini berfungsi sebagai dasar sirkulasi ekonomi di tingkat masyarakat. Potensi yang bisa direalisasikan salah satunya adalah dengan perlindungan terhadap industri kreatif yang muncul dari kearifan-kearifan lokal yang berasal dari masyarakat itu sendiri,”  ujar Dodi.

Diskusi yang diadakan di Café Hanoman ini berlangsung selama dua jam dan dihadiri oleh mahasiswa dari universitas-universitas Madiun, yakni STKIP Widya Yuwana, Universitas Merdeka, Universitas PGRI Madiun dan Universitas Widya Mandala. KSMM berkomitmen untuk menjadikan dialog semacam ini, sebagai sarana komunikasi antar komunitas mahasiswa dan masyarakat supaya mampu mempererat gerakan civil society untuk kesejateraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.