MELESTARIKAN EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DALAM KONTEKS MULTIKULTURAL: PRESTASI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA

Penulis: Aris; Tanggal 20 Oktober 2020

Gambar tiga orang penari Gandrung bermasker, menari dengan lemah gemulai dengan latar belakang suasana kering yang berasap. Poster artistik ini menampilkan keindahan sekaligus suasana kecemasan yang melingkupinya. Poster hasil karya Benediktus Ferry Patria Chrisnanto, mahasiswa angkatan 2015 asal Paroki Santa Maria Ponorogo ini memenangkan lomba pembuatan poster dalam rangka Dies Natalis STKIP Widya Yuwana ke-61, ia menyabet juara kedua pada lomba yang diadakan oleh almamater tercinta.

Poster yang berjudul  “Temukan Cintamu pada Budaya Bangsamu” Ferry menceritakan bahwa pada setiap kebudayaan yang berkembang, ada cerita di balik keindahan yang ditampilkannya. Misal, ritual khas daerah tersebut yang dilakukan sebelum tarian itu dipentaskan. Inilah keunikan yang ada dalam kesenian kita”, katanya. Gambaran gersang dan kering mencerminkan nasib kesenian daerah semakin kurang diminati oleh kawula muda. “Kalaupun masih ada, itu seringkali dicampur atau di-mix dengan kebudayaan lain dengan pencampuran yang tidak melalui pemahaman yang mendalam sehingga munculah seni yang kering dan berjarak dengan ciri khas yang ada dalam masyarakatnya,” tutur Ferry menjelaskan.

Mengenai huruf A dalam poster itu Ferry menjelaskan bahwa A itu adalah Alpha, Sang Pemula, Sang Pencipta Alam semesta beserta keindahannya. Lebih lanjut ia menjelaskan ekspresi seni sebagai wujud ucap syukur atas berkat yang diberikan Allah, Sang Pencipta kepada umatnya. Selain rasa syukur, rasa saling mencintai sesama manusia dan alam semesta juga menjadi tema yang diangkat dalam setiap budaya yang muncul di masyarakat.

Visualisasi yang mengkontraskan antara keindahan dan kemuraman ini adalah munculnya rasa miris yang dirasakannya atas keberadaan seni dan pelaku seni di sekeliling dia. Ia melihat, masih ada seniman yang merasa “minder” dalam berkarya. Sebagai solusi atas mentalitas tersebut, Ferry memberanikan diri mempelajari nilai-nilai seni yang berkembang di daerahnya sendiri, yaitu Ponorogo. Proficiat Ferry!