STKIP WIDYA YUWANA TURUT AMBIL BAGIAN DALAM ACARA SARASEHAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) KOTA MADIUN

Penulis: Nanda & Cella; Tanggal: 15 Oktober 2020

 

STKIP Widya Yuwana turut ambil bagian dalam acara sarasehan yang diadakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Madiun. Kegiatan kali ini mengambil tema “Revitalisasi Generasi Milenial yang Berkebangsaaan dan Multikultur”. Acara bertempat di Gedung Ramayana Jl Pahlawan 57 Madiun. STKIP Widya Yuwana mengirimkan 2 orang mahasiswa dan 2 orang dosen, yang mana salah satu dosennya diminta menjadi narasumber dalam pelaksanaan acara FKUB tersebut. Acara yang dihadiri oleh sekitar 35 orang pemuda dari berbagai lintas agama ini dibuka dengan mendengarkan instrument lagu Indonesia Raya bersama, diikuti dengan sambutan dari Kepala Kementerian Agama Kota Madiun, Drs. H. Munir M.Hum dan Ketua FKUB kota Madiun, KH. M. Dahlan, SH. Tema yang diangkat dalam kegiatan sarasehan tersebut sebagai wujud nyata dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Madiun untuk memberikan kesadaran kepada generasi milenial akan pentingnya memiliki semangat berkebangsaan yang multikultur.

2 narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut yaitu Bapak Drs. H. Munir M.Hum selaku Kepala Kementerian Agama Kota Madiun dan Romo Dr. Alexius Dwi Widiatna S.S., M.Ed (dosen STKIP Widya Yuwana). Dari tema kegiatan kali ini muncul suatu pertanyaan besar yang menggelitik yakni “Mengapa Generasi Milenial perlu direvitalisasi?”. Pertanyaan ini lantas dijawab oleh Bapak Munir, bahwa generasi milenial saat ini, tumbuh dan berkembang di era digital yang berbeda, oleh karena itu, revitalisasi dibutuhkan supaya para generasi milenial menjadi pribadi yang memilliki pendirian yang kuat sehingga tidak mudah dipengaruhi dan diprovokasi oleh oknum-oknum yang memiliki keinginan untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Juga, 4 pilar yang harus dipegang teguh dan diyakini, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika merupakan pedoman yang harus menjadi kekuatan para pemuda untuk membangun pendirian dalam hidupnya. “Jas Merah” yang memiliki arti “Jangan Melupakan Sejarah” merupakan nilai yang harus ditanamkan kepada pemuda-pemudi saat ini, sehingga mereka dapat mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggaan untuk mempertahankan kesatuan.

Lantas, “Bagaimana mewujudnyatakan revitalisasi di masa kini?” Dalam melakukan revitalisasi pada pada era digital ini dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan juga perlu untuk “melek digital” dan mampu memfilter arus informasi yang ada di dunia maya, sehingga dijauhkan dari berbagai hoax yang memecahkan dan menghancurkan persatuan. Berbagai hal tidak baik juga timbul dari gadget itu sendiri terkhusus oleh sosial media. Bagaimana cyber bullying, penipuan, dan juga hoax yang mengacu pada SARA dan berbau agama merupakan cara-cara oknum yang ingin menghancurkan persatuan bangsa Indonesia melalui provokasi terhadap kaum muda. Sehingga, generasi Milenial sebagai “Aggent Of Change” perlu memahami nilai kebangsaan yang multikultur serta dengan mengingat kembali bahwa Indonesia sendiri ini juga dibangun berdasarkan kesepakatan yang beragam (Multikultural). Di akhir materinya, Romo Alex memberikan pesan yang dikutip oleh dari Bung Karno sebagai Presiden Indonesia pertama yang berbunyi “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan Perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri” sehingga dari sinilah dapat dipahami bahwa perjuangan yang harus dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia adalah untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia.