WEBINAR DIES NATALIS STKIP WIDYA YUWANA KE-61: SEMANGAT PEWARTAAN IMAN BERDASARKAN KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA

Penulis: Aris; Tanggal 25 September 2020

Segenap sivitas akademika berbahagia menyambut 61 tahun berdirinya kampus tercita “Widya Yuwana” dan sebagai institusi pendidikan yang berada di kota Madiun ini, STKIP Widya Yuwana terus berbenah untuk memperbaiki mutu pendidikannya. Kampus yang berdiri dengan berbekal semangat awal keprihatinan akan kondisi sosial masyarakat yang perlu pelayanan dari Gereja, sedangkan Gereja saat itu mengalami kekurangan man power-nya.

Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-61 ini, Panitia Dies Natalis STKIP Widya Yuwana menggandeng dua mahasiswa yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya, Ignatius Rio Praseno dan Kasimirus, mereka mengungkapkan pandangannya terhadap semangat pendiri institusi dan tantangan yang harus dihadapi dalam realitas hari ini.

Rio, panggilan akrab dari Ignatius Rio Praseno mengungkapkan bahwa semangat awal pendirian institusi ini adalah melakukan karya pewartaan iman berdasarkan kasih kepada Allah dan manusia. Spirit ini sebaiknya harus tetap bergema dalam ritme kehidupan kampus dewasa ini. Dirinya juga mengurai pandangannya mengenai jejak langkah kampus Widya Yuwana Madiun. Menurutnya, diawali dengan semangat pewarta-pewarta iman melakukan aktifitas tanpa pamrih atau tanpa bayaran yang tergabung dalam komunitas ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam) yang didirikan oleh Romo Jansen CM. Dalam mendidik katekis awam ini, Romo Jansen CM menekankan pada lima pokok dasar ALMA, yaitu Meditasi Harian, Bacaan Kitab Suci, Ekaristi, Pembentukan Diri Sebagai Rasul dan Pembentukan Basis Gerejani. Tindakan kongkrit untuk pewartaan adalah memilih pelayanan kepada kaum cacat dan miskin.

Senada dengan yang disampaikan oleh Rio, Kasimirus (alumni) mengungkapkan pendapatnya bahwa semangat pendiri institusi yaitu Romo Jansen CM sampai saat ini masih sangat terasa. Kepedulian mengenai Gereja dan masyarakat dalam semangat Vinsensian selalu menjadi perhatian dan hal itu diwujudkan dalam penambahan keterampilan penunjang bagi mahasiswa. “Selain matang dibidang teologi dan akademis, mahasiswa juga diberi tambahan keterampilan, sehingga saat terjun di lapangan banyak inovasi yang dilakukan berdasarkan potensi dasar umat yang ada di lingkungan tersebut,” demikian ujar Kasimirus.

Lebih lanjut Kasimirus mengungkapkan adanya perhatian dan cinta pengajar dan pengelola kampus terhadap mahasiswa. “Rasa cinta dan dicintai adalah hal penting yang diresapi hingga saat ini. Mahasiswa harus merasakan rasa cinta dan dicintai saat mereka menjalani masa studi. Sehingga setelah lulus, mereka akan bersedia membagikan apa yang  telah diterimanya semasa kuliah kepada umat dan masyarakat”. Selain itu tradisi penelitian sebaiknya juga perlu dikembangkan. “Mulai riset mengenai tanggapan mahasiswa terhadap pelayanan dan proses belajar mengajar di kampus, terutama pada mahasiswa semester 2 dan 4 serta 5 dan 6.” Mengenai hal ini Kasimirus memberi penjelasan bahwa pada semester-semester itu mahasiswa akan bisa mengungkapkan pendapatnya secara lebih jujur.

Usia 61 tahun menandakan kampus STKIP Widya Yuwana telah mencapai usia yang matang. Karya pewartaan keselamatan tetap menjadi misi yang selalu diemban. Proficiat bagi kampus Widya Yuwana.