PRAKTEK MATA KULIAH SOSIOLOGI DAN BUDAYA: MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA KUNJUNGI SITUS BUDAYA NGRAWAN

Belajar dari kearifan dalam pelestarian kebudayaan lokal adalah sesuatu yang sangat menarik. Dengan memahami cerita yang dituturkan warga, seseorang akan belajar mengenai nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Apalagi di jaman sekarang, saat anak muda sudah banyak yang kurang suka untuk menggali kearifan budaya yang ada di sekitarnya.

Menyadari akan hal itu dan sebagai usaha untuk pengenalan lingkungan sekitar kampus, serta pemenuhan Mata Kuliah Sosiologi dan Budaya di kampus STKIP Widya Yuwana Madiun beberapa mahasiswa mengunjungi cagar budaya Ngurawan yang terletak di Desa Ngrawan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.

Pada areal cagar budaya yang dikelola oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur ini, pengunjung masih bisa menemui peninggalan sejarah, antara lain: Yoni yang masih dalam kondisi utuh bisa ditemui di kawasan makam dan juga patung seorang putri serta umpak (batu penyangga tiang) berada di sekitar rumah Bapak Ibnu.

Menurut Birgita Evanda Citra Prapaskalis atau yang biasa dipanggil Citra, mahasiswa semester 6 asal Paroki Santo Yohanes Rasul, Wonogiri ini menuturkan dengan mengunjungi situs bersejarah, mahasiswa akan mampu memahami keberadaan sejarah lokal. “Pada kunjungan ini, kami mendengar cerita mengenai pembukaan desa pada jaman dahulu dan saya sangat senang, masyarakat di Desa Ngrawan ini tetap mampu untuk menjaga benda-benda bersejarah yang ada di daerahnya tersebut,” ungkapnya.

Senada dengan ungkapan Citra, mahasiswa lain yang turut dalam kunjungan itu adalah Fransiska Amelia atau Amel, mahasiswa semester 6 asal Paroki Santo Petrus dan Paulus, Mojorejo, Kab. Blitar ini menguraikan dengan aplikasi lapangan untuk Mata Kuliah Sosiologi dan Budaya ini, dia merasakan manfaat nyata dari wacana multikultural yang dikembangkan di kampusnya.

Dengan adanya sikap saling keterbukaan maka kedua mahasiswa tersebut juga tidak canggung dan sangat diterima baik oleh Bapak Ibnu selaku tokoh masyarakat dan pengurus LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin) Kabupaten Madiun.

Dengan pengalaman lapangan ini, menurut Citra, dalam proses pendidikan sebagai guru agama Katolik salah satu hal yang penting dipelajari adalah belajar mengenai kebudayaan. Dengan bekal pengetahuan tersebut maka hubungan baik antara mahasiswa dan umat Katolik dengan masyarakat di sekitar kampus juga terjalin dengan baik.

(Aris)