DEBAT DAN DISKUSI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA Membangun Budaya Akademi: Diskusi Mencerahkan Budi dan Hati

Debat dan diskusi mahasiswa STKIP Widya Yuwana merupakan program yang diselenggarakan oleh Departemen Penelitian dan Pengembangan (di bawah BEM). Kegiatan debat dan diskusi mahasiswa ini sudah berjalan dua kali yaitu pada 10 Oktober 2019 dan 21 November 2019 yang diadakan di kampus STKIP Widya Yuwana. Debat dan diskusi mahasiswa ini diikuti masing-masing 3-5 orang dari tiap perwakilan kelas. Kegiatan debat dan diskusi pada kamis 21 November 2019 ini dipandu oleh moderator Antaris Jingga (mahasiswa tingkat II) untuk mengatur jalannya kegiatan debat dan diskusi. Adapun tema debat dan diskusi adalah “Indonesia di Moncong Radikalisme”.

Tema radikalisme merupakan polemik hangat pada waktu belakangan ini, yang menggejolak. Radikalisme yang destruktif tidak hanya terpapar kepada mereka yang miskin (mayoritas) tetapi juga orang-orang menengah ke atas bahkan ASN. Aksi nyata radikalisme destruktif makin meresahkan masyarakat. Sasaran mereka bukan hanya agama tertentu tetapi instansi pemerintahan, polisi, tokoh pemerintah (seperti Wiranto) tidak lepas dari lahap api semangat radikalisme. Negara diserang lewat simbol atau personalisasi negara seperti aparat, kantor pemerintah dan pejabat negara. Negara seakan lemah berada di moncong misi radikalisme destruktif.

Dengan tema tersebut mahasiswa diharapkan ikut prihatin terhadap permasalahan-permasalahan di negara ini. Melalui debat dan diskusi inilah mahasiswa dapat memberikan argumen serta menyumbangkan ide-ide dengan nilai-nilai moral dan religius. Dalam debat dan diskusi kali ini menggunakan model pro-kontra. Peserta dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pro dan kelompok kontra. Kelompok pro merupakan kelompok yang mendukung program dan kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Sedangkan kelompok kontra adalah kelompok yang mengkritik program dan kebijakan pemerintah.

Adapun aturan dalam debat dan diskusi ini yaitu setiap peserta atau kelompok harus bisa menyampaikan argumen, mendengarkan, menjawab, mengomentari, mengkrtik, dan mendukung. Setiap perwakilan kelompok baik itu pro maupun kontra harus menjawab dan menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh narasumber: Mengapa mereka mendukung kebijakan pemerintah dan mengapa kebijakan tersebut harus dikritik, tentu diharapkan berlandaskan konsep teori dan realitas (data). Tujuan kegiatan ini tidak lain adalah membudayakan akademis: literasi, dapat dipertanggunjawabkan secara epistemologis, ontologis dan aksiologis, tidak asbun.

Debat dan diskusi adalah kesempatan mahasiswa untuk berpikir secara kritis dan melatih keberanian dalam mengemukakan pendapat. Tentunya mahasiswa dapat saling betukar pikiran sebagai bentuk keprihatian terhadap masalah tersebut. Selain itu mahasiswa dapat memetik buah lain dari kegiatan ini seperti public speaking, berpikir analitis, sistematis. Dengan demikian kegiatan ini menjadi kegiatan yang menggembirakan, menjadi sarana ilmu yang mengasyikkan (gaya scencia), membantu mahasiswa untuk belajar rendah hati, menghargai pendapat orang lain, dan menahan diri untuk tidak terpancing emosi.

 

Penulis,

Didi Cahyono