PENGGUNAAN MEDIA DARING DALAM REKSA PASTORAL

Penulis : Aris. Tanggal 25 Juli 2020

Seiring dengan merebaknya pandemi Covid-19, istilah daring kini lebih di kenal secara luas. Metode daring memang terasa pas bagi setiap pribadi yang telah terbiasa berselancar pada “benua ke-enam” ini. Saat ini banyak aktifitas yang dilakukan dengan menggunakan sistem daring seperti pekerjaan, pembelajaran, maupun ibadah. Dengan sistem daring tersebut, maka jarak dan waktu pun tidak menjadi penghalang, karena semua dimudahkan dengan sistem online ini.

Mengenai merebaknya penggunaan media daring dalam berbagai aktifitas masyarakat, berkaitan dengan bidang pastoral, Bapak Albert I Ketut Deni Wijaya selaku akademisi dari STKIP Widya Yuwana, Madiun mengungkapkan pandangannya mengenai pastoral online, pada Seminar Hari Studi (25/6). Walau pola daring telah banyak digunakan, berkaitan dengan pastoral yang berisi peribadatan, pengajaran, kesaksian dan persekutuan diperlukan kearifan yang lebih, mengingat latar belakang pelaksanaan penggunaan media daring ini. Tak hanya itu, mengenai tema atau materi yang diberikan, sasaran, tujuan dan kepada siapa pastoral atau penggembalaan itu ditujukan. “Pastoral online itu ada keterbatasannya. Pelayanan dan pendampingan umat, dengan pastoral online bisa diterima, namun keutuhan pelayanan ada keterbatasannya karena pada prinsipnya pastoral itu memerlukan sentuhan, sapaan dan pendekatan pribadi,” ungkap Pak Deni.

Lebih lanjut, Pak Deni mengungkapkan bahwa pendekatan pastoral online, itu sangatlah situasional dan tidak bisa menggantikan reksa pastoral seutuhnya. Dikatakan situasional misal berkaitan dengan lansia. Masih banyak lansia yang belum terbiasa menggunakan gadget selain itu berkaitan dengan masalah kebiasaaan yang belum ramah menggunakan teknologi, keterbatasan jaringan dan paket data internet. Selain lansia, kategori anak-anak juga perlu diperhatikan, reksa pastoral konvensional lebih baik diterapkan pada kategori usia anak. Pak Deni menegaskan,“Dunia anak-anak sangat memerlukan pendampingan dan bimbingan orang-orang terdekatnya serta pada usia ini target pemahamannya adalah mengenai pengenalan tradisi.” Tak hanya itu, berkaitan dengan kesaksian juga harus menjadi perhatian. Kesaksian ini bersifat keluar sehingga memerlukan kesaksian atas perilaku hidupnya dan selanjutnya akan dilihat dalam kehidupan sehari-harinya dan proses ini akan bisa terasa dalam kehidupan nyata.

 

Tantangan dan Peluang Mahasiswa STKIP Widya Yuwana

Banyak yang diungkapkan Pak Deni mengenai beberapa keterbatasan mengenai pastoral secara daring. Namun, beliau juga memberi sebuah tantangan bagi mahasiwa STKIP Widya Yuwana untuk mampu menggunakan media daring sebagai sarana pewartaan. Sikap itu dimulai dengan perubahan sikap yaitu siap dengan perubahan. “Mahasiswa masih dalam proses studi adalah saat yang tepat untuk mempersiapkan diri dari pola lama ke pola baru. Mengenai pastoral digital mahasiswa perlu latihan,” ujar Pak Deni.

Untuk mewujudkan persiapan ke era baru, berkaitan dengan pastoral, Pak Deni mengatakan mahasiswa perlu merenungkan kembali apa makna dari pastoral lalu mengamati bentuk, karakter serta segmentasi pengguna dari karya pastoral setelah itu baru melangkah ke pengenalan jenis media daring yang akan digunakan sebagai sarana pastoralnya. Langkah berikutnya adalah mampu memadukan karya pastoral dengan sarana media yang telah dikuasainya tersebut dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi atas langkah-langkah yang sudah ditempuh untuk menghasilkan karya yang lebih mendalam dan sesuai dengan sasaran utama dari pastoral itu sendiri.