SUMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TERHADAP KEHIDUPAN MENGGEREJA SISWA KATOLIK SMA DAN SMK KATOLIK KOTA MADIUN

Supriyadi, Agustinus
Dosen STKIP Widya Yuwana Madiun

Abstract:

Based on Matthew 28: 19-20, all people are called to proclaim the Good News includes young Catholics. Young Catholics carry out the mission expressed through the implementation of the five tasks of the Church. However, circumstances today give many negative effects for young Catholics. Therefore it is needed an education system in school, especially in the field of growing faith. This is the importance role of the Catholic Religious Education for students to strike the challenges of life in the light of the Christian faith.

This scientific research aims to prove contribution of Catholic Religious Education in Catholic senior high school and vocational school for student Catholic way of living in the church. The results showed that most Catholic student knew the benefits of understanding the Catholic Religious Education and life of the church but not deep. Catholic Religious Education in schools contributes little to the Catholic student life of the church because there are other factors suchaseducation parents, support of the people around themselves (priests, sisters, and mothers orphanage administrators), and their self-awareness.

Keywrods: education, student, Catholic

I. Pendahuluan

Globalisasi membawa berbagai dampak dan tantangan. Globalisasi melahirkan perubahan teknologi dan orientasi pendidikan (Wilhelmus, 2012: 133). Pemanfaatan teknologi modern seperti komputer dan internet telah membawa perubahan dalam dunia pendidikan tradisional. Pertukaran informasi telah terbuka lebar.Situasi semacam ini membuka ruang lebar bagi setiap orang untuk belajar dalam suasana individual, mandiri, kompetitif, dan enggan berkomunikasi dengan orang di sekitar.

Dampak globalisasi juga berpengaruh besar pada kaum muda Katolik termasuk usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada usia tersebut mereka sedang berada pada tahap mencari jati diri sehingga sangat rentan akan pengaruh hal-hal yang buruk masuk ke dalam diri mereka (Tangdilintin, 2008: 31). Kemajuan pesat komunikasi dan teknologi menyebabkan kaum muda Katolik asyik dengan dunianya sendiri dan kurang bergaul serta berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Hal ini cenderung membawa kaum muda Katolik untuk tidak berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial  maupun kehidupan menggereja (bdk. Pareira, 2003: 65).

Berdasarkan Injil Matius 28: 19-20, semua orang dipanggil untuk mewartakan Kabar Gembira termasuk kaum muda Katolik yang terungkap melalui pelaksanaan panca tugas Gereja (bdk. Iswarahadi, 2002: 16). Panca tugas Gereja tersebut antara lain menghidupkan peribadatan yang menguduskan (liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (koinonia), memajukan karya cinta kasih atau pelayanan (diakonia), dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Yesus Kristus (martyria). Jadi sebagai anggota umat Allah, kaum muda Katolik diutus untuk terlibat aktif dalam kehidupan menggereja dengan menjalankan panca tugas Gereja tersebut (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013: 110).

Materi tentang panca tugas Gereja menjadi dasar bagi kaum muda Katolik untuk melaksanakannya secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Kaum muda Katolik berada dalam situasi yang tidak pasti, menurunnya kualitas hidup, krisis nilai, krisis moral, krisis kader, dan kecemasan akan masa depan Hal ini sangat nampak dalam kegiatan-kegiatan OMK di Paroki maupun di lingkungan. Jika ada suatu kegiatan tertentu maka kaum muda Katolik yang datang dapat dihitung dengan jari. Mereka memilih sikap acuh tak acuh dan mengambil jarak untuk berpartisipasi dalam kehidupan menggereja.

Dengan melihat situasi dan kondisi, maka sangat penting sebuah sistem pendidikan yang ada di sekolah terutama dalam bidang mengolah iman (Sewaka, 1992: 91). Pengajaran iman yang ada di sekolah sangatlah penting agar perkembangan iman dan pribadi kaum muda Katolik dapat terbentuk secara utuh dan baik. Di sinilah peran penting Pendidikan Agama Katolik yakni memajukan dan mencerdaskan siswa agar dapat menjawab tantangan hidup dalam terang iman Kristiani (Ayda, 2005, Hidup Nomor 12, Pendidikan Agama Katolik Versus Pendidikan Religiositas: 7).

Peneliti hendak meneliti sejauh mana sumbangan Pendidikan Agama Katolik di sekolah terhadap kehidupan menggereja, dan sudah dihayati serta dilaksanakan oleh kaum muda Katolik dalam kehidupan sehari-hari atau hanya sekedar menjadi pengetahuan tanpa perbuatan apa-apa. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan melaporkan meaning of events dari apa yang diamati penulis (Gorman dan Clayton,1997:23-24). Penulis terlibat secara partisipatif di dalam observasinya. Penelitian ini dilakukan di SMA/ SMK Katolik Kota Madiun yang terdiri dari empat sekolah, antara lain SMAK St. Bonaventura, SMK St. Bonaventura I, SMK  St. Bonaventura II, dan SMK Farmasi Katolik Bina Farma.

II.  Pendidikan Agama Katolik Terhadap Kehidupan Menggereja Siswa Katolik

2.1       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Undang Undang No. 20 tahun 2003 (Sisdiknas pasal 1 ayat 1) mengatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik adalah usaha sadar dan terencana untuk membantu peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang makin beriman (kepada Allah dan semakin menghayati imannya dalam keseharian hidup) sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Pendidikan Agama Katolik merupakan proses yang cenderung memelihara dan mengembangkan nilai-nilai Kristiani agar menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan siswa. Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan usaha untuk memampukan siswa berinteraksi, berkomunikasi, dan memahami pergumulan hidupnya dalam terang iman Katolik serta mampu menghayati imannya secara penuh dan utuh (Janssen, 1993: 8).

Janssen (1993:11) mengatakan bahwa pada pokoknya tujuan Pendidikan Agama Katolik harus menghasilkan perubahan (perkembangan) dalam diri pribadi peserta didik menuju tingkat perkembangan hidup beriman kristiani yang lebih sempurna, lebih tinggi, dan pada akhirnya dapat mencapai kedewasaan Kristiani yang sejati yaitu kedewasaan pribadi yang berpola pada Yesus Kristus. Proses Pendidikan Agama Katolik di sekolah dilaksanakan melalui komunikasi iman Katolik yang terjadi antara pendidik dan sekelompok siswa, pendidik dan siswa secara pribadi, dan antar siswa dan sesama siswa. Komunikasi tersebut berkisar pada hidup iman Kristiani, yaitu bertumpu pada Yesus Kristus. Hidup beriman Kristiani mempunyai unsur objektif yang dapat diketahui, dipelajari, dan unsur-unsur subjektif berupa tanggapan atau penghayatan yang diketahui, dipelajari, dan dipahami (KWI, 2004:4).

Pendidikan Agama Katolik memiliki empat aspek ajaran iman dan kompetensi dasar yang harus diwujudkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, aspek pribadi siswa termasuk relasinya dengan sesama dan lingkungan hidupnya. Kedua, aspek pribadi Yesus Kristus dengan meneladani pribadi Yesus dan warta Kabar Gembira. Ketiga, aspek Gereja yang di dalamnya mencakup materi bahwa Gereja adalah persekutuan murid-murid Yesus yang melanjutkan karya Yesus Kristus. Keempat, aspek kemasyarakatan yang diwujudkan siswa dalam hidup beriman dan bermasyarakat (bdk.Ayda, 2005:7).

2.2       Kehidupan Menggereja

Kehidupan menggereja adalah persekutuan umat Allah yang mendapat tugas perutusan dari Kristus: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19) Kehidupan Gereja berpangkal pada relasi dengan Allah dan dengan Kristus sebagai kepala (lih. Efesus 4:15-23).  Panca tugas Gereja ini terdiri dari menghidupkan peribadatan yang menguduskan (liturgia), mewartakan Kabar Gembira (kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (koinonia), memajukan karya cinta kasih atau pelayanan (diakonia), dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Yesus Kristus (martyria) (bdk. Tangdilintin, 2008: 65).

Liturgi merupakan perayaan iman.Perayaan iman tersebut merupakan pengungkapan iman Gereja, di mana orang yang ikut dalam perayaan iman mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi lahiriah, tetapi yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang diwartakan (bdk. Martasudjita, 2002:11). Di dalam bidang liturgi ini, peneliti membatasi ruang lingkup pada bentuk-bentuk dan kegiatan pengudusan yang sering dilakukan di dalam Gereja, yakni: doa dan doa resmi Gereja, perayaan sakramen-sakramen, perayaan sakramentali, dan devosi dalam Gereja Katolik (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013: 113).

Semua pengikut Kristus Yesus pada zaman modern ini, bahwa wajib untuk mewartakan Injil tentu saja dengan cara yang berbeda-beda. Ciri khas dan keistimewaan kaum awam adalah sifat keduniaannya. Berdasarkan panggilan mereka, kaum awam wajib mencari Kerajaan Allah dengan menguasai hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah (Prasetya, 2003:27). Kaum awam memancarkan iman, harapan, dan cinta kasih terutama dengan kesaksian hidup mereka, serta menampakkan Kristus kepada semua orang (bdk.LG 31).

Koinonia berarti persekutuan dengan partisipasi intim.Gereja bukan sekadar organisasi saja, namun merupakan kumpulan anggota Umat Allah yang hidup bersekutu, bersatu dalam nama Tuhan (KWI, 2004:25). Kitab Suci, mengatakan; “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19). Artinya bahwa kesatuan dan kebersamaan orang-orang percaya di dalam Kristus disebut persekutuan.

Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Yesus. Dengan kata lain, melayani sesama adalah tanggungjawab setiap orang Kristiani sebagai konsekuensi dari imannya. Dengan demikian, orang Kristen tidak hanya bertanggungjawab terhadap Allah dan Yesus Kristus, tetapi juga bertanggungjawab terhadap orang lain yang menjadi sesamanya. Pelayanan Gereja dapat bersifat ke dalam, tetapi juga ke luar.

Injil pertama-tama diwartakan dengan kesaksian, yakni diwartakan dengan kata-kata, tingkah laku, dan perbuatan. Menjadi saksi Kristus berarti menyampaikan atau menunjukkan apa yang dialami dan diketahuinya tentang Yesus Kristus kepada orang lain. Penyampaian penghayatan dan pengalaman akan Yesus itu dapat dilaksanakan melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan nyata (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013:139).

2.3       Siswa Katolik

Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa SMA/ SMK. Siswa Katolik yang dimaksud oleh peneliti adalah kaum muda yang beragama Katolik dan sudah dibaptis berusia antara 15-18 tahun yang duduk di bangku SMA/ SMK kelas X sampai XII, dan memperoleh pelajaran Pendidikan Agama Katolik (Komisi Kateketik KWI, 2007:9).

Siswa Katolik merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang (AA 12). Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut mereka kegiatan merasul yang sepadan. Jika gairah itu diresapi oleh semangat Kristus dan dijiwai sikap patuh dan cinta kasih terhadap para gembala Gereja, maka boleh diharapkan akan memperbuahkan hasil yang melimpah. Potensi inilah yang seharusnya menjadi perhatian banyak pihak untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan keberadaan dan jati diri kaum muda agar mereka boleh bangga dengan diri dan masa depannya (Prasetya, 2003:104).

Kaum muda adalah aktor sekaligus penanggungjawab terhadap masa depan Gereja. Besarnya peran dan tanggungjawab remaja erat kaitannya dengan bagaimana remaja mampu mempertahankan, melanjutkan, mengembangkan, merawat, dan menyempurnakan apa yang baik yang telah dirintis dan dicapai oleh generasi-generasi sebelumnya. Dalam masa perkembangannya menuju kedewasaan, siswa Katolik menghadapi banyak masalah. Darajat (1993:69), menyatakan bahwa segala masalah yang terjadi pada remaja berkaitan erat dengan usia yang sedang dilalui dan pengaruh lingkungan di mana mereka hidup. Masalah-masalah yang dihadapi terkadang menyebabkan kegoncangan bagi jiwa remaja. Masalah remaja yang dimaksud ialah kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh remaja sehubungan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pengembangan maupun penyesuaian diri terhadap lingkungan tempat remaja hidup (bdk. Willis, 2008:43).

III.       Sumbangan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Terhadap Kehidupan Menggereja Siswa Katolik

3.1       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Memampukan Siswa Semakin Liturgis

Sub tema pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI semester gasal membahas tentang liturgi. Siswa diajak untuk memahami liturgi sebagai upaya Gereja untuk menguduskan dunia. Tidak ada keterpisahan antara hidup dan ibadat di dalam umat. Pengertian mengenai hidup sebagai persembahan dalam Roh dapat memperkaya perayaan Ekaristi yang mengajak seluruh umat untuk membiarkan diri diikutsertakan dalam penyerahan Kristus kepada Bapa. Dalam pengertian ini, perayaan Ekaristi sungguh-sungguh merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani.

Liturgi merayakan segala tindakan dan perbuatan Allah dalam Kristus yang senantiasa dialami manusia sehari-hari. Segala suka dan duka, kegembiraan dan keprihatinan, keberhasilan, dan kesulitan yang dialami manusia sehari-hari menjadi bagian konkret dari kehidupan manusia bersama Allah dalam Kristus. Karena liturgi merayakan karya keselamatan Allah, maka liturgi merayakan apa yang dilakukan Allah melalui Kristus dalam hidup manusia yakni penyelamatan (Martasudjita, 2002: 26).

3.2       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Memampukan Siswa Semakin Kerygmatis

Sub tema pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI semester gasal membahas tentang kerygma. Melalui pelajaran ini, siswa dapat memahami tugas pewartaan Gereja dan dengan demikian dapat terlibat dalam tugas ini, khususnya dengan kesaksian hidup mereka. Sebagai bagian dari umat awam, siswa menjadi umat yang ikut bertanggung jawab dalam pewarta iman. Siswa juga diharapkan tanpa ragu-ragu memadukan pengakuan iman dengan penghayatan iman.

Pewartaan Injil yang disampaikan dengan kesaksian hidup dan kata-kata memperoleh ciri khas dan daya guna istimewa justru karena dijalankan dalam keadaan-keadaan biasa dunia ini (LG Art. 35). Tugas mewartakan Injil Kerajaan Allah merupakan tugas semua anggota Gereja, termasuk di dalamnya adalah siswa Katolik. Subyek perutusan adalah Gereja yaitu umat beriman itu sendiri.Kitab Suci dan kegiatan mewartakan Injil Kerajaan Allah sangat berkaitan karena isi pewartaan bersumber terutama dari Kitab Suci dalam kesatuan dengan Tradisi. Kitab Suci menjadi pendamping utama bagi kaum muda dalam rangka ikut serta melaksanakan tugas perutusan mewartakan Injil Kerajaan Allah.

3.3       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Memampukan Siswa Semakin Bersekutu (Koinonia)

Sub tema pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI semester gasal membahas tentang koinonia. Melalui pelajaran ini siswa diharapkan dapat memahami makna dan hakikat Gereja yang membangun persekutuan. Siswa diharapkan menghayati semangat persekutuan umat itu di lingkungan tempatnya berada.

Ciri-ciri persekutuan yang terdapat pada awam adalah terhimpun karena ikatan persaudaraan, merupakan suatu tubuh yang hidup, hidup oleh Roh Kudus, dijiwai pola tertentu dalam penghayatan iman bersama, hidup dari sabda Tuhan, mengadakan Perayaan Ekaristi, doa bersama terbuka bagi dunia, serentak menunaikan panggilan mewartakan sabda Tuhan, terutama melalui kesaksian hidup sehari-hari dalam berbagai bentuk dan segi kehidupan para awam sendiri di dunia, di mana dia berada dan hidup.

3.4       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Memampukan Siswa Semakin Melayani (Diakonia)

Sub tema pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI semester gasal membahas tentang diakonia. Dalam pelajaran ini, pada akhirnya siswa diharapkan dapat memahami ajaran Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang diakonia, memahami makna pelayanan sebagai pengikut Kristus, serta melakukan aksi dalam menghayati tugas pelayanan Gereja.

Salah satu karya pelayanan Gereja yakni untuk orang-orang yang menderita karena kemiskinan.Bentuk solidaritas Gereja kepada orang miskin diharapkan dapat menghadirkan kasih Allah di tengah orang miskin. Kasih Allah yang dirasakan sebaiknya memang tidak sebatas pengetahuan, pemahaman atau pun kata-kata saja, melainkan harus terwujud dalam tindakan nyata.

3.5       Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Memampukan Siswa Semakin Berani Bersaksi (Martyria)

Sub tema pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI semester gasal membahas tentang martyria. Pewartaan dalam bentuk kesaksian hidup mungkin sangat relevan untuk saat ini. Pewartaan verbal mungkin kurang simpatik dibandingkan dengan pewartaan lewat dialog, termasuk dialog hidup, di mana mewartakan iman melalui kesaksian hidup sehari-hari. Kesakisian dapat ditunjukkan dengan hidup yang penuh kasih dan persaudaraan di tengah situasi yang sarat dengan permusuhan, kekerasan, dan teror. Dalam pelajaran ini, pada akhirnya siswa diharapkan dapat memahami ajaran Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang martyria, memahami makna martyria, dan melakukan aksi untuk semakin menjadi saksi Kristus.

Pemberitaan Injil Kerajaan Allah dan tentang Yesus Kristus akan menjadi kurang lengkap jika hanya terbatas dalam pengajaran dan kata-kata. Pemberitaan Injil hendaknya juga disertai dengan perbuatan konkret.Sebab kesaksian hidup jauh lebih memiliki gema dalam sebuah evangelisasi, dibanding sekedar pengajaran yang kosong. Keberanian menjadi saksi hendaknya diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama, khususnya kepada mereka yang miskin dan menderita.

IV. Hasil Penelitian Tentang Sumbangan Pendidikan Agama Katolik Terhadap Kehidupan Menggereja Siswa Katolik Sma Dan Smk Katolik Kota Madiun

Responden dalam penelitian ini adalah siswa Katolik kelas X dan XI yang sekolah di SMA/ SMK Katolik di Kota Madiun yang terdiri dari empat sekolah, antara lain SMAK St. Bonaventura (3 siswa), SMK St. Bonaventura 1 (3 siswa), SMK  St. Bonaventura 2 (2 siswa), dan SMK Farmasi Katolik Bina Farma (3 siswa). Jadi total responden keseluruhan berjumlah 11 siswa.

Data tentang pemahaman responden tentang Pendidikan Agama Katolik di sekolah, menunjukkan sebagian besar yaitu 9 responden (82%) mengatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan ajaran Gereja Katolik. Ada satu responden (9%) yang menyatakan mengembangkan iman dan satu responden (9%) menyatakan lengkap bahwa Pendidikan Agama Katolik berisi tentang ajaran Gereja Katolik dan mengembangkan iman.

Terkait dengan Pendidikan Agama Katolik di sekolah berbeda dengan pelajaran lainya, semua responden mengungkapkan bahwa Pendidikan Agama Katolik berbeda dengan pelajaran lainnya.Ada 6 responden (55%) menyatakan perbedaan Pendidikan Agama Katolik dengan pelajaran lainnya terletak pada penghayatan iman dalam hidup sehari-hari, dan 5 responden (45%), menyatakan bahwa perbedaannya terletak pada mengembangkan nilai-nilai Kristiani.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, delapan responden (73%) menyatakan bahwa manfaat Pendidikan Agama Katolik di sekolah ialah menerapkan pengetahuan imannya dalam hidup nyata, dan tiga responden (27%) lebih kepada membuat semakin beriman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan responden (73%) mengungkapkan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah mendorong mereka dalam mewujudkan iman.Dan tiga responden (27%) menyatakan mendorong untuk semakin dapat mengkomunikasikan iman. Terkait dengan pengertian hidup menggereja, tujuh responden (64%) menyatakan bahwa hidup menggereja merupakan persekutuan Kristus.Kemudian, empat responden (36%) lebih kepada persekutuan umat Allah.

Hasil penelitian terkait contoh kegiatan liturgi, menunjukkan bahwa satu responden (9%) memberi contoh hanya berupa perayaan Ekaristi. Dua responden (18%) menyebutkan ibadat dan devosi. Tiga responden (27%) memberi contoh Ekaristi dan devosi. Satu responden (9%) menyatakan Ekaristi dan ibadat. Satu responden (9%) menjawab perayaan Ekaristi, ibadat, devosi, dan sakramen, dan ada tiga (27%) responden yang belum memahami contoh kegiatan liturgi.

Hasil penelitian terkait contoh kegiatan kerygma menunjukkan bahwa tiga responden (27%) memberi contoh sabda/pewartaan. Satu responden (9%) menjawab kesaksian hidup. Empat responden (37%) belum memahami contoh kegiatan kerygma dan, tiga responden (27%) sama sekali tidak dapat menyebutkan contoh kegiatan kerygma secara tepat.

Hasil penelitian terkait contoh kegiatan koinonia menunjukkan bahwa dua responden (18%) menjawab persekutuan umat. Dua responden (18%) mengungkapkan menghayati hidup menggereja. Dua responden (18%) melengkapi jawaban responden sebelumnya, yaitu berupa persekutuan umat dan menghayati hidup menggereja, dan lima responden (46%) sudah dapat memberi contoh kegiatan koinonia meski ada beberapa yang kurang tepat.

Terkait contoh kegiatan diakonia, ada satu responden (9%) menjawab berupa pelayanan jemaat. Tiga responden (27%) mengungkapkan pelayanan masyarakat. Lima responden (46%), menyatakan pelayanan jemaat dan pelayanan masyarakat, dua responden (18%), satu di antaranya belum dapat menyebutkan secara benar, dan satu responden sama sekali tidak dapat memberi contoh dengan benar.

Hasil penelitian terkait contoh kegiatan martyria, terdapat dua responden (18%) mengungkapkan penghayatan hidup rohani. Satu responden (9%) menjawab dialog hidup. Satu responden (9%) belum memahami contoh kegiatan kerygma, dan tujuh responden (64%) sama sekali belum memahami dan belum dapat memberi jawaban yang benar.

Hasil penelitian terkait pengalaman hidup berliturgi mengatakan bahwa terdapat enam responden (55%) rutin dalam hal berdoa, merayakan Ekaristi, menyambut sakramen, dan devosi. Dua responden (18%), melakukan berdoa, merayakan Ekaristi, dan menerima sakramen tobat. Satu responden (9%), hidup berliturginya rutin diwujudkan dalam merayakan Ekaristi, menerima sakramen tobat, dan devosi. Dua responden (18%) rutin merayakan Ekaristi dan menerima sakramen tobat.

Hasil penelitian terkait pengalaman mewartakan sabda Allah menujukkan bahwa ada empat responden (36%) yang menjawab bentuk pewartaannya sebagai pewartaan sabda Allah. Dua responden (18%) berupa kesaksian hidup. Lima responden (46%) sama sekali belum dapat mengungkapkan pengalaman yang benar berkaitan dengan kegiatan kerygma.

Hasil penelitian terkait pengalaman hidup bersekutu menujukkan bahwa satu responden (9%) menyebutkan persekutuan umat dalam menghayati hidup menggereja. Empat responden (36%), menyatakan persekutuan umat. Dua responden (18%) menjawab menghayati hidup menggereja. Tiga responden (28%) belum dapat mengungkapkan pengalaman hidup bersekutu secara tepat. Satu responden (9%) sama sekali belum dapat menjawab dengan benar.

Hasil penelitian terkait pengalaman melayani sesama, terdapat delapan responden (73%) yang menyatakan pengalamannya dalam bentuk solidaritas kepada orang yang menderita. Dua responden (18%) menyatakan berupa pelayanan jemaat. Satu responden (9%) menyatakan bentuk pelayanan jemaat dan solidaritas kepada orang menderita.

Hasil penelitian terkait pengalaman menjadi saksi Kristus, terdapat sepuluh responden (91%) menyatakan pengalamannya berupa dialog hidup. Satu responden (9%) berupa dialog hidup dan penghayatan hidup rohani

V. Penutup

Untuk pemahaman teori tentang Pendidikan Agama Katolik, semua siswa Katolik yaitu 11 (sebelas) orang sudah mengetahui pengertian Pendidikan Agama Katolik namun pemahaman mereka masih kurang lengkap dan belum mendalam. 11 (sebelas) siswa Katolik menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah bukan hanya sekedar pembelajaran agama Katolik, tetapi lebih kepada pengahayatan iman dalam hidup sehari-hari dan mengembangkan nilai-nilai Kristiani.Pendidikan Agama Katolik di sekolah bermanfaat bagi semua siswa Katolik. Manfaat Pendidikan Agama Katolik di sekolah ialah menerapkan pengetahuan imannya dalam hidup nyata. Semua siswa Katolik juga menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah membuat semakin beriman.

Terkait dengan pengertian kehidupan menggereja, dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa keseluruhan yaitu 11 (sebelas) siswa Katolik sudah dapat menjelaskan, tetapi belum memahami betul serta kurang mendalam. Dalam menyebutkan contoh kegiatan dalam panca tugas Gereja khususnya dalam tugas Gereja yang menguduskan (liturgi) dan kegiatan tugas Gereja yang melayani (diakonia), sebanyak 8 (delapan) dan 9 (sembilan) siswa Katolik sudah dapat menyebutkan dengan benar walaupun ada yang belum mendalam.Selain itu, 6 (enam) siswa Katolik sudah dapat menjawab contoh kegiatan koinonia, tetapi masih belum mendalam. Sebanyak 7 (tujuh) siswa Katolik belum dapat menyebutkan dengan benar contoh kegiatan kerygma dan 8 (delapan) siswa Katolik belum dapat menyebutkan dengan benar contoh kegiatan martyria.

Ada beberapa kekurangan dalam kaitannya dengan pemahaman siswa dan pengalamannya yang dilakukannya. Siswa Katolik sering kali dapat menyebutkan teori dengan benar tetapi belum dapat mengungkapkan pengalamannya sesuai teori yang dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta: Jakarta.

Ayda, C. (20 Maret 2005). Pendidikan Agama Katolik Versus Pendidikan Religiositas. Hidup Nomor 12, 6-7.

——-, (20 Maret 2005).Bedanya PAK dan PR. Hidup Nomor 12, 10-11.

Banawiratma, J. B. 1991. Iman, Pendidikan dan Perubahan Sosial. Kanisius: Yogyakarta.

Bimas Agama RI. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007.

Cahyadi, Krispurwana. 2009. Pastoral Gereja. Kanisius: Yogyakarta.

Crichton, J.D. 1990. Perayaan Sakramen. Kanisius: Yogyakarta.

Dalmais, I.H. 1989. Liturgi: Gereja Merayakan Yesus Kristus. KWI: Yogyakarta.

Hermans, J. 1992. Merayakan Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta.

Iswarahadi, Y.I. 2002.Membangun Iman dan Persahabatan (SP 335). Pusat Pastoral: Yogyakarta.

Jacobs, Tom. 2003. Koinonia dalam Eklesiologi Paulus. Dioma: Malang.

Janssen.P. 1993.Didaktik. IPI: Malang.

————  1993. Pembinaan Iman dan Remaja. IPI: Malang.

Jebadu, Alexander. 2009. Devosi kepada Bunda Maria. Fidei Press: Jakarta.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013.Pendidikan Agama Katolik dan Budi PekertiBuku Guru. Balitbang Kemdikbud: Jakarta

Komisi Kateketik KWI, 2007. Silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar. Kanisius: Yogyakarta.

Komisi Pendidikan KWI. 2008. Deklarasi Tentang Pendidikan Kristen. Komisi Pendidikan: Jakarta.

KWI, 2004.Pendidikan Agama Katolik untuk SMA/SMK. Kanisius: Yogyakarta.

Magnis, Franz. 1987. Etika Dasar. Kanisius: Yogyakarta.

Mangunhardjana, A.M, 1989. Pendampingan Kaum Muda. Kanisius: Yogyakarta.

Martasudjita. 2002. Spiritualitas Liturgi. Kanisius: Yogyakarta.

————— 2008. Pembinaan Generasi Muda. Kanisius: Yogyakarta.

Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda: Bandung.

Pareira, B. A. 2003. Pendidikan Nilai di Tengah Arus Globalisasi. Dioma: Malang.

Patilima, Hamid. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: Bandung.

Prasetya, L. 2003. Keterlibatan Awam Sebagai Anggota Gereja. Dioma: Malang

Rukiyanto, B. A. 2012. Pewartaan Di Zaman Global. Kanisius: Yogyakarta.

Sewaka, A. 1992.Ajaran Dan Pedoman Gereja Tentang Pendidikan Katolik. Grasindo: Jakarta.

Sugiyono, 2006.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta: Bandung.

Suwita, P. 2007. Bidang Kesaksian. Dioma: Malang.

Tangdilintin, Philip. 1984. Pembinaan Generasi Muda Visi dan Latihan. OBOR: Jakarta.

Tim Edukasi MMM PAM. 2008.Pendidikan Katolik Model Van Lith. Pustaka Nusatama: Yogyakarta.

Tondowidjojo, John. 1990. Arah dan Dasar Kerasulan Awam. Kanisius: Yogyakarta.

Wina Press. 2012. Remaja dan Liturgi. Kanisius: Yogyakarta.