PERTOBATAN MENURUT UMAT STASI SANTA MARIA KOLONG BOJONEGORO DITINJAU DARI PENGALAMAN PERTOBATAN SANTO PAULUS

Triwidya Tjahja Utama, Cornelius
Dosen STKIP Widya Yuwana Madiun

Abstract :

Everyone has their own way in many respects, specifically related to the repentance. Basically all persons called by God through his conviction. Catholics are called by God to continually renew themselves through repentance in order to free themselves from the slavery of sin, aimed to reorient his mind and entire life to God and to toward the way of the Lord. Majority of St. Mary Christian community composed of the farmers. In the beginning, the number of Christian faithful in the community was very small.

Saint Paul was a Pharisee who was really hating very much Christ, even he did the hard and cruel actions of the followers of Christ. However he was then called by God to become a special follower of Christ. Paul preached the Gospel with his own which attacted a lot of people to become Christians. There are similarities regandiog the experience of repentance between Catholics in St. Mary communitity Stasi with St. Paul. This study uses qualitative research conducted with individual interviews. From the research results can be concluded that respondents understand the meaning of repentance. They experience the feel called to repent. About the benefits of the respondents said that being more responsible for the family and his job. Regarding the spirit of repentance says seriously repented, and the impact they want to be like St. Paul. They are very keen to repent. the impact Paul realized his sin. Respondents are motivated to explore the teaching of St. Paul.

Keywords: Saint Paul, Kolong, sin

I. PENDAHULUAN

Manusia bisa jatuh dalam dosa yang membawanya pada penderitaan. Hal ini membuat manusia harus bertindak cermat dan waspada supaya tidak jatuh dalam dosa. Hartono (1986: 110) mengatakan dosa sebagai: “mencintai diri kita sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa, sehingga kita menjauhkan diri dari cinta kasih Allah. Alex Suwandi (2005: 20-24) memberikan alasan mengapa orang tidak menghiraukan pertobatan sebagai berikut: Pertama, karena orang tidak mengerti konsep dosa. Kedua, hilangnya pengakuan diri sebagai orang berdosa. Ketiga, tidak adanya penyembuhan sesudah pengakuan dosa. Maka umat berpikir bahwa pengakuan dosa sendiri, maka umat berpikir bahwa pengakuan dosa sendiri tidak bisa mengubah hidup.

Bertobat merupakan tanda atau wujud kedewasaan iman seseorang “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” (Mrk 1:4).  Bagi orang yang beriman pertobatan merupakan suatu hal yang sangat penting dan perlu. Pertobatan juga dapat memberikan kemajuan atau kedewasaan rohani bagi dirinya sendiri. Orang yang bertobat selalu mendapat anugrah yang baru yaitu: Pertama, mereka dihapuskan dari segala dosa-dosanya. Kedua, orang semakin didekatkan kepada Tuhan Allah. Ketiga, relasi dengan sesama kian membaik (bdk. Prasetya, 2006: 166).

Yesus Kristus rela mengorbankan dirinya demi manusia untuk membebaskan manusia dari dosa yang dilakukan oleh manusia itu sendiri supaya mereka berbalik kepada Allah (Kis 9: 19b-20). Orang Katolik senantiasa belajar dari pengalaman Santo Paulus yang terkenal dengan pertobatannya. Paulus seorang Yahudi yang taat terhadap hukum Taurat dan melawan pengikut Yesus, pada akhirnya dipertobatkan Allah dari segala penindasan yang ia lakukan.

Pertobatan juga menjadi pergumulan di Stasi St. Maria Kolong Bojonegoro. Umat Katolik Stasi Santa Maria Kolong Bojonegoro merupakan stasi yang tertua di Bojonegoro. Pada mulanya umat hanya terdiri dari segelintir keluarga dan seiring berjalannya waktu umat semakin bertambah kian banyak dan kental dengan budaya Jawa, mayoritas penduduk berpencaharian sebagai petani. Relasi antar umat beragama juga kondusif. Kegiatan umat dalam mengikuti perayaan Misa maupun ibadat juga sangat baik. Untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan iman umat Katolik pada stasi ini, penulis mengangkat tema: PERTOBATAN MENURUT UMAT STASI SANTA MARIA KOLONG BOJONEGORO DITINJAU DARI PENGALAMAN PERTOBATAN  SANTO PAULUS.

II. PENGERTIAN TOBAT

2.1. Pemahaman Umum tentang Pertobatan

Tobat secara umum dimengerti sebagai sadar dan menyesal akan dosa dan berniat memperbaharui tingkah laku dan perbuatan (KBBI: 475). Manusia kembali menyadari adanya Allah dan disertai dengan adanya perubahan-perubahan dari sisi intelektual atau dari sisi moral, yang meliputi perubahan cara berpikir dan tingkah laku manusia. Seorang pendosa kini mengikatkan diri secara menyeluruh pada cinta Tuhan dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Bapa (Chang 2001: 188). Tobat berarti manusia mengarahkan dirinya kepada Allah yang telah memberikan berbagai talenta dalam dirinya, Allah menghendaki supaya talenta tersebut dapat dikembangkan secara nyata (Al Amin Susanto 1990:37). Tobat mengandaikan adanya suatu pengalaman manusia merasakan kasih pengampunan yang begitu besar dari Allah (bdk. Maas 1999:39).

2.2. Kitab Suci Perjanjian Lama

Dosa lebih dimengerti sebagai suatu pemutusan hubungan Allah dengan manusia seperti Adam dan Hawa (Kej 3:1-24), Kain dan Habel (Kej 4:1-16). Beberapa kecenderungan akibat dosa antara lain; Pertama, dosa memutuskan hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua, kurangnya kesadaran manusia atas anugerah yang diberikan Allah. Ketiga, kecenderungan manusia yang ingin mengetahui segalanya yang ada di dunia yang seringkali menyamakan dirinya dengan Allah (Chang. 2001: 161-162).

Kitab Yunus 1:1-4, 4:1-11 menceritakan tentang kisah Nabi Yunus yang diutus Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada bangsa Niniwe dan pertobatan Niniwe. Yunus berusaha menghindari tugas yang diberikan Tuhan. Tugas tersebut membuat kesal hati dan marah kepada Tuhan karena Tuhan menyesal atas rencana musibah yang direncanakan kepada bangsa Niniwe yang akhirnya bangsa itu bertobat.

Yunus seorang nabi yang sulit menerima bahwa Allah murah hati dan maharahim terhadap orang berdosa, sedangkan Niwiwe adalah kota yang penduduknya dipenuhi kejahatan dan menyembah berhala karena mereka tidak tahu membedakan mana yang baik dan buruk (lih. Yun 4:1-11). Niwiwe bertobat, maka Allah menunjukkan kasih-Nya dengan tidak menghukum seisi kota Niwiwe dan Allah juga mengampuni Yunus.

Jatuhnya Tirus mengakibatkan Yahwe menolak raja dan bangsa itu. Ada dua hal kesalahan Tirus, Pertama: menolak kesucian Allah dengan kesombongannya. Kedua: bertindak tidak adil terhadap hak sesama, oleh karena itu, Yahwe mendatangkan bencana bagi Tirus (Yeh 6: 2-3).

Tuhan mengampuni Tirus dan bangsanya karena mereka belajar mengenal kasih Allah dalam pertobatan dan pengakuan kesalahan mereka kepada Allah. Janji Allah kepada Tirus dan bangsanya adalah bahwa Allah membebaskan Israel dari pembuangan, ladang yang gersang akan menjadi subur dan kota-kota dibangun. Allah memberikan suasana aman seperti semula (Darmawijaya. 1990: 47-51).

Nabi Yoel menyampaikan kepada bangsa Yehuda bahwa akan terjadi bahaya dan kesusahan di wilayah itu. Hal ini dapat diartikan sebagai suatu peringatan dari Tuhan. Nabi Yoel mengajak umat untuk melakukan pertobatan (Yl 1: 13). Nabi Yoel meminta para imam untuk menyerukan puasa dan memberikan contoh baik, menggunakan kain kabung sebagai tanda pertobatan. Biasanya pertobatan di bangsa ini dihentikan pada sore hari, namun bila sangat penting kain kabung digunakan sepanjang malam. Ajakan untuk berdoa dan bertobat kemudian diakhiri dengan mengulangi gambaran penderitaan yang pada intinya adalah merindukan Tuhan (Darmawijaya, 1990: 126-131).

2.3. Kitab Suci Perjanjian Baru

Kisah Yohanes Pembaptis (Mrk 1: 1-4) menekankan bahwa untuk menyambut  Tuhan manusia perlu disucikan lewat pertobatan, dengan demikian manusia menjadi pantas bagi Tuhan. Pertama-tama, pertobatan adalah langkah awal dari manusia untuk masuk dalam anggota Gereja yakni baptis dan bersatu dengan lainnya.

Yesus menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Allah dengan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dengan melaksanakan kehendak Allah maka tindakan manusia menjadi benar. Yohanes Pembaptis dan Yesus tunduk terhadap rencana Allah, Yesus menerima pembaptisan maka Dia bersahabat dengan para pendosa dengan tujuan untuk menyelamatkan mereka dari dosa (Leks 2003: 80-81). Kisah Mat 9: 9-13, menceritakan tentang panggilan Matius pemungut cukai. Matius dan para pemungut cukai dianggap orang Farisi sebagai orang pendosa dan penghianat. Hal ini dikarenakan mereka bekerja dengan orang bukan Yahudi. Yesus memanggil Matius untuk bertobat dengan sepenuh hati, dan dengan tindakannya menjadi pengikut Kristus. Yesus hadir di tengah-tengah orang berdosa yang artinya bahwa Allah hadir melalui Yesus untuk menyembuhkan orang-orang berdosa supaya mereka mendapat pengampunan dari Allah (bdk. Leks, 2003: 200-204).

Yak 5: 19-20, menunjukkan semangat memperhatikan kesejahteraan orang lain dalam jemaat. Orang Kristen hendaknya selalu berupaya memperhatikan mereka yang telah berdosa dan berusaha untuk mengembalikannya ke jalan yang benar hingga sembuh. Mereka yang telah melakukan hal ini telah menyelamatkan jiwannya sendiri dan menghasilkan pengampunan atas dosa-dosanya sendiri (LBI, 1985: 122).

2.4 Dokumen Konsili Vatikan II

Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan tentang tugas dari kaum awam untuk turut serta dalam tugas kenabian. Kristus telah memaklumkan Kerajaan Bapa, dengan kesaksian hidup dan Sabda-Nya. Kristus telah menunaikan tugas kenabian-Nya sampai pada kemulian-Nya. Tugas tersebut tersebut kini diwariskan pada kaum hirarki yang mengajar dengan kewibawaannya dan kaum awam. Para awam tersebut ditunjuk untuk menjadi saksi iman bagi keluarga dan masyarakat supaya kekuatan Injil bersinar dalam hidup mereka. Mereka yang memilih percaya kepada Kristus hendaknya mengungkapkannya pada pertobatan yang senantiasa diperjuangkannya di dunia (LG 35).

Masa dan pertobatan dalam tahun Gereja (Masa puasa, tiap hari Jumat sebagai kenangan akan kematian Tuhan) adalah waktu pembinaan hidup pertobatan. Waktu-waktu ini sangat cocok terutama untuk retret, upacara tobat dan ziarah pertobatan, untuk pengorbanan secara sukarela umpamanya puasa dan memberi sedekah, dan membagi-bagi dengan sesama. Umat hendaknya senantiasa mengingat akan pengurbanan Kristus dengan meluangkan diri untuk berpuasa, ziarah, dan memberi sedekah kepada sesama untuk dapat menghidupi pertobatannya.

2.5 Kehidupan Santo Paulus dan Pertobatannya

Paulus dari Tarsus adalah seorang Yahudi. Paulus, yang bernama asli Saulus dilahirkan di Tarsus yang saat ini bernama Turki (Brunot, 1992: 14). Ketika sudah dewasa Paulus pindah ke Yerusalem untuk belajar ilmu Taurat kepada  Gamaliel (Brunot, 1992: 22).

Paulus adalah seorang ahli dalam  hukum Taurat, dan tidak pernah sedikitpun melanggar hukum Taurat. Paulus pernah menganiaya pengikut Kristus yang mengimani ajaran Kristus sebab baginya di luar ajaran Kitab Taurat tidak ada kebenaran (Darmawijaya, 1992: 107). Paulus ditobatkan di dekat kota Damsyik  oleh Allah sendiri, hal ini terjadi ketika ia mendengar suara yang memanggilnya: “Saulus-Saulus mengapa engkau mengejar  Aku?” (LBI, 1981: 70). Ketika mendengar suara itu Saulus melihat cahaya dan menjadi buta. Lalu ia bertobat.

2.6 Pertobatan Santo Paulus

Paulus melihat cahaya yang sangat menyilaukan sehingga rebah ke tanah dan menjadi buta. Terdengar oleh Paulus suara yang memanggilnya. Atas perintah Tuhan, Ananias diutus untuk menyembuhkan Paulus, sehingga Paulus sembuh dan minta dibaptis sehingga menjadi seorang Kristiani (Kis 9: 3-19a). Kisah Para Rasul 9: 15-16 menjelaskan bahwa Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu yang sangat indah mengenai panggilan Paulus sebagai alat pilihan Tuhan dalam memberitakan nama-Nya. Paulus akan menjadi cahaya bagi bangsa bukan Yahudi dan seorang saksi atas penderitaannya. Dan atas panggilannya ini Paulus akan seperti Kristus, hamba Tuhan yang menderita secara istimewa (LBI, 1981: 71-72).

Kis 9: 19b-20 menjelaskan bahwa Paulus tinggal beberapa hari bersama murid-murid di Damsyik. Paulus telah memperoleh hidup rohani yang baru setelah ia mengenal Tuhan dan berkhotbah di dalam rumah-rumah ibadat di Damsyik dengan mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Setelah tiga tahun bertobat, Paulus kembali ke Yerusalem, namun dia masih dikenal sebagai seorang penganiaya pengikut Kristus. Hal ini yang membuat murid-murid Tuhan takut ketika dia hendak menggabungkan diri kepada mereka, karena mereka tidak percaya bahwa Paulus telah bertobat (Kis 9: 26-28). Barnabas menyambutnya dan membawanya kepada para Rasul. Barnabas menceritakan bagaimana Tuhan telah memanggilnya untuk bertobat (Kis 9: 27), hingga akhirnya Paulus diterima oleh Para Rasul dan tinggal bersama mereka dan mewartakan Yesus (Kis 9: 28).

2.7 Arti Pertobatan menurut Santo Paulus:

Sebelum bertobat, Paulus memperjuangkan hukum Taurat dengan seluruh kecerdasan yang dimiliki. Setelah bertobat Paulus mewartakan Injil dari pengalamannya dengan seluruh kemampuannya. Pertobatan intelektual diperlukan adanya kesadaran  dan bantuan manusia (William chang, 2001: 190).

Paulus bertobat karena kehendak Allah untuk bertobat dibutuhkan peran orang lain sebagai cermin atas tindakannya (Darmawijaya, 1992: 32-33). Orang dituntut untuk bertanggungjawab atas tindakan salahnya di masa lalu (Wiliam Chang, 2001:192).

Paulus menceritakan kepada umat Filipi tentang masa lalunya. Hal-hal duniawi yang ia dapatkan sebelum bertobat adalah sesuatu yang membanggakan (kekuasaan, jabatan, dsb) yang selalu diincar dan diinginkan banyak orang. Setelah bertobat dan mengalami hidup dalam Kristus, semua masa lalu menjadi hal yang sia-sia. Paulus rela meninggalkan apa yang didapatkan di dunia ini, sebab bagi Paulus hidup dalam Kristus dan menjalin hubungan yang mesra dengan-Nya adalah kebenaran (bdk. LBI, 1988:35-36).

Paulus mengajarkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah bagi orang yang percaya. Paulus mengajarkan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Yesus bangkit dari mati karena kesatuannya dengan Allah. Paulus memilih hidup dalam Kristus. Paulus menunjukkan jalan keselamatan bagi semua orang dengan mewartakan Injil.

2.8 Pemahaman dan Penghayatan pada Umumnya tentang Pertobatan.

Di zaman ini orang tidak mau dikatakan dirinya berdosa, untuk menutupinya ia mengatakan dosa sebagai suatu: kesalahan, kekeliruan, salah perhitungan, kurang studi kelayakan, belum profesional, dan kelalaian. Orang beriman mengarahkan kembali pikirannya kepada Tuhan, menerima tawaran kasih Tuhan, Tuhan adalah Maha Murah, mengharapkan belas kasihan dari Tuhan (Kees Maas, 1999:39-40).

Hubertus Leteng (2010:81-85) mengatakan ciri khas manusia bertobat ialah: Pertama, didasari adanya perasaan sedih atau pilu, karena setiap perbuatan dosa akan membawa penderitaan. Kedua, menghasilkan tindakan dan langkah yang lebih baik, meninggalkan dosa dan tindakan yang jahat, memiliki niat yang dimulai saat ini juga untuk tidak berbuat dosa lagi. Ketiga, bertobat tidak hanya niat manusia sendiri, tetapi mengharapkan belas kasih dan bantuan Allah. Melalui pertobatan umat senantiasa dekat dengan Injil, umat senantiasa mampu mengendalikan diri, hubungan manusia dengan Tuhan semakin baik (Albertus Joko Sulistiyo, 2012: 123).

Setiap manusia selalu mendambakan kebahagiaan dan takut akan kematian, berdasarkan hal ini sangat diperlukan pentingnya umat untuk bertobat. Hidup bahagia berarti orang dapat memiliki dan menikmati apa yang dimilikinya yakni harta benda yang dapat menjamin kehidupannya di dunia. Namun, kebahagiaan yang paling tinggi adalah manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Kebahagiaan tersebut dapat tercapai bila manusia dapat menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan dan mau mencintai Tuhan (Mat 22: 37) (Veuger, 2005: 69).

Manusia beriman pada Yesus, selalu diajak untuk mewartakan kabar gembira tentang Kristus kepada sesama. Setiap orang beriman diajak untuk selalu bersyukur atas rahmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai orang beriman seseorang senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya dan senantiasa melaksanakan kehendak-Nya dalam hidupnya sehingga ia tidak selalu mementingkan diri kita sendiri (Romain, 2002:102-104).

Menjadi orang Katolik berarti harus mau memanggul salib Kristus. Sebagai manusia yang beriman pada-Nya, seseorang dituntut untuk senantiasa seperti Kristus dan bertindak menurut kehendak-Nya. Dapat dikatakan menjadi orang Kristiani harus hidup dalam kasih, mengenal Yesus lebih dekat, dapat berfikir dan bertindak senada dengan Kristus sesuai dengan kemampuan diri  masing-masing orang. Meneladani Kristus bukan hal yang mudah namun orang beriman harus memiliki rasa kasih, senantiasa berjuang terus menerus melakukan kebaikan dan meninggalkan keegoisan diri sendiri (Romain, 2002: 3).

III. HASIL PENELITIAN TENTANG PERTOBATAN DI STASI SANTA MARIA KOLONG

3.1 Selayang Pandang Stasi Santa Maria Kolong

Stasi Santa Maria Kolong ada di desa Kolong, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Hasil analisa data tentang pengalaman pertobatan responden menunjukkan bahwa, 3 (30%) responden mengatakan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan kepada orang lain dan mau memperbaikinya, kemudian 7 (70%) responden memberikan jawabannya bahwa mereka menyesali dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa lampau dan ingin memperbaikinya karena takut pada Tuhan, merugikan sesama dan diri sendiri. Data lapangan juga menunjukkan bahwa sebanyak 8 (80%) responden mengatakan merasa dipanggil Tuhan untuk membuka hati dan tidak ingin berbuat dosa lagi karena sudah bertobat dan Roh Kudus datang dalam diri kita sehingga dapat merasakan kebahagiaan, kedamaian, dan kenyamanan.

Hasil analisa data tentang manfaat pertobatan menunjukkan bahwa 3 (30%) responden mengatakan manfaat pertobatan antara lain dapat mengendalikan diri, berbuat lebih baik lagi dan memperbaiki diri. 3 (30%) responden lain mengatakan gunanya ialah membuat seseorang selalu mengucap syukur atas dosa-dosa yang sudah diampuni, memiliki pikiran yang benar, dan lebih kuat dalam beriman.

Hasil analisa data mengenai pemahaman responden tentang sikap bertobat menunjukkan 6 (60%) responden mengatakan, pemahamannya tentang sikap bertobat yang benar adalah mampu menjalin hidup yang baik kepada Tuhan dan sesama. 5 (50%) responden mengatakan, pemahamannya tentang sikap bertobat yang benar adalah mengarahkan pikiran kepada Tuhan.

Hasil penelitian kualitatif menunjukkan bahwa, 7 (70%) responden mengatakan mau mewartakan, membaca Kitab Suci, menjalankan perintah Tuhan, berdoa, dan mengikuti Misa atau ibadat. Menyusul tentang manfaat pertobatan 3 (30%) responden mengatakan, manfaat pertobatan yang dialami dalam hidup sehari-hari adalah hidup merasa lebih tenang dan damai. 4 (40%) responden mangatakan tentang manfaat pertobatan yang dialami dalam hidup sehari-hari adalah menjadi lebih kuat dalam beriman.

Hasil penelitian menunjukkan 9 (90%) responden mengatakan, bahwa Santo Paulus adalah orang yang jahat dan bertobat. 10 (10%) responden mengatakan bahwa, Paulus sangat semangat dan tanpa mengeluh dalam mengajar dan mewartakan Yesus kepada semua orang.  7 (70%) responden mengatakan bahwa, Paulus sudah bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan dosa lagi. 2 (20%) responden mengatakan bahwa Paulus mewartakan Injil dengan penuh semangat. 4 (40%) responden mengatakan dampak tentang pertobatannya ialah Paulus menyadari dan menyesali kesalahan-kesalahannya. 3 (30%) responden  mengatakan bahwa pengalaman pertobatan Santo Paulus memberikan pengaruh baik, yakni Paulus bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan buruknya lagi.

Hasil penelitian kualitatif menyatakan sebanyak 5 (50%) responden mengatakan bahwa, dirinya tertarik untuk memperbaharui diri melalui pertobatan karena dapat menumbuhkan semangat dalam mengikuti Tuhan dan semakin dekat dengan Tuhan. 3 (30%) responden mengatakan tertarik untuk selalu memperbaharui diri melalui pertobatan karena hidup merasa tenang, nyaman dan damai. 3 (30%) responden mengatakan bahwa dampak pertobatan Santo Paulus bagi hidup dan karya mereka adalah dapat melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. 3 (30%) responden mengatakan, dampak pertobatan Santo Paulus bagi hidup dan karya mereka adalah dapat menjadi istri yang selalu menyayangi keluarganya. 5 (50%) responden mengatakan termotivasi mengikuti pertobatan Santo Paulus karena ingin menjadi murid Tuhan yang sejati. 2 (20%) responden mengatakan termotivasi mengikuti pertobatan Santo Paulus karena ingin menghayati pertobatannya.

IV. PENUTUP

Seluruh responden berdomisili dari Stasi Santa Maria Kolong Paroki Santo Paulus Bojonegoro. Pada umumnya para responden memiliki pengalaman pribadi dalam kaitan dengan pertobatan. Usia responden yang paling muda adalah 15 tahun, sedangkan yang paling tua 54 tahun.

Secara umum dari hasil analisa data penelitian menunjukkan bahwa para responden mengerti tentang arti pertobatan. Dan pada umumnya mereka mengatakan bertobat berarti menyesali dosa-dosa dan kesalahannya di masa lampau dan ingin memperbaikinya karena takut pada Tuhan dan tidak ingin melukai perasaan sesamanya. Mengenai pengalaman para responden tentang pertobatan dapat disimpulkan bahwa para responden merasa terpanggil oleh Allah untuk bertobat dan tidak melakukan dosa lagi. Para responden mengatakan manfaat pertobatan antara lain dapat mengendalikan diri, berbuat baik kepada sesama, dan tidak ingin berbuat dosa lagi. Para responden memahami sikap bertobat yang benar. Dari jawaban para responden dapat disimpulkan bahwa responden memahami dan mengakui pertobatan sebagai tindakan mengarahkan kembali pikiran mereka kepada Tuhan, mau menerima panggilan Tuhan, dan berbuat baik kepada sesama.

Secara umum dari hasil analisa data penelitian kualitatif dapat ditarik kesimpulan bahwa umat telah memahami siapa itu Santo Paulus. Jawaban keseluruhan para responden mengatakan, Santo Paulus adalah seorang yang jahat, menganiaya pengikut Yesus, dan kemudian ditobatkan Allah melalui cahaya yang terang sehingga membuat matanya buta selama tiga hari. Para responden berpendapat bahwa Santo Paulus mewartakan Injil kepada banyak orang dengan penuh semangat dan tanpa mengeluh serta dilandasi rasa cinta kasih. Pada umumnya para responden berpendapat bahwa Santo Paulus sudah bertobat dan hidupnya semakin membaik. Mengenai dampak pengalaman pertobatan terhadap perubahan hidup dan karya Santo Paulus, para responden mengatakan bahwa pertobatan Santo Paulus itu memberikan pengaruh yang baik dan membuat mereka menyadari kesalahan-kesalahan dan dosa yang pernah mereka lakukan dan akhirnya bertobat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertobatan Santo Paulus memberi semangat dan dorongan bagi mereka untuk memperbaharui diri melalui pertobatan. Para responden tertarik untuk selalu bertobat dalam keseharian. Pertobatan dan karya Santo Paulus menjadi contoh atau panutan, membuat mereka lebih bertanggung jawab pada pekerjaan baik sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga. Dan belajar membuka diri terhadap rahmat Allah seperti Santo Paulus.

DAFTAR PUSTAKA

___. 2004. Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Pengarang.

___. 1995. Katekismus Gereja Katolik (Herman Embuiru, penerjemah). Ende:  Arnoldus.

___. 2006. Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: KWI.

Bergant, Diane CSA dan Robert J Karris. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.     Yogyakarta: Kanisius.

Bergant, Diane CSA dan Robert J Karris. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama.     Yogyakarta: Kanisius.

Brox, Nobert. 1992. Memahami Amanat santo Paulus. Yogyakarta: Kanisius.

Brunot, A. 1992. Paulus dan Pesannya. Yogyakarta: Kanisius.

Chang, William. 2001. Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Darmawijaya, St. 1990. Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya. Yogyakarta: Kanisus.

Darmawijaya, St. 1992. Sekilas Bersama Paulus. Yogyakarta: Kanisius.

Darmawijaya, St. 2006. Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.

Hadisuparjo, R.Y. Yatiman. 1997. Jejak Perjalanan Paroki Santo Paulus Bojonegoro.

Harun, Martin. 2008. Surat-surat Rasul Paulus. Jakarta: LBI.

Hayon, Nikolaus. 1989. Tema-tema Paulus. Ende: Nusa Indah.

Heuken, A. 1994. Ensiklopedi Gereja IV Ph-To. Jakarta: Cipta Laka Caraka.

Jacobs, Tom. 1985. Paulus Rasul. Yogyakarta: Kanisius.

Jacobs, Tom. 1992. Hidup Dalam Roh Yang Membebaskan. Jakarta: LBI.

LBI. 1981. Tafsir Perjanjian Baru 5. Kis Para Rasul. Yogyakarta: Kanisius.

LBI. 1983. Tafsir PB 6, Surat-surat Paulus. Yogyakarta: Kanisius.

LBI. 1988. Tafsir Perjanjian Baru 8. Surat-surat Paulus 3. Yogyakarta: Kanisius.

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius.

Letteng, Hubertus. 2010. Spiritualitas Pertobatan Pintu Masuk Kerajaan Allah. Jakarta: Obor.

Maas, Kees. 1999. Teologi Moral Tobat. Ende: Nusa Indah.

Martasudjita, E. 2003. Sakramen-Sakramen Gereja. Yogyakarta: Kanisius.

Romain, Philip. St. 2006. Menjadi Manusia Baru. Yogyakarta: Kanisius.

Shelton, C. 1987.  Moralitas Kaum Muda. Jakarta: Kanisius.

Sulistiyo, Robertus Joko. Vol 7. Tahun ke 4. April. 2012. JPAK. Madiun: STKIP Widya Yuwana.

Susanto, Amin Al. 1990. Membangun Sikap Tobat, Pegangan Orang Tua. Yogyakarta: Kanisius.

Sutopo, H. B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas 11 Maret.

Suwandi, Alex. 2005. Penyembuh Dalam Sakramen Tobat. Yogyakarta: Kanisius.

Tobin, Thomas H. 2006. Warta Rohani Rasul Paulus. Ende: Nusa Indah.

Van, Keeseel. R. 1997. 6 Tempayan Air. Jakarta: Kanisius.

Yohanes, Paulus II. 1979. Redemptor Hominis. Jakarta: KWI.