SEMANGAT PELAYANAN YESUS KEPADA ORANG MISKIN MENURUT INJIL LUKAS 9:10-17 DAN RELEVANSINYA BAGI KARYA PELAYANAN KATEKIS DEWASA INI

Ola Rongan Wilhekmus,
Dosen STKIP Widya Yuwana Madiun

Abstrac :

 The poor in Luke 9:10-17 refers to those who lack of food, suffering various physical illness and those who are yearning for God. The main reason for Jesus to deliver such services for the poor is because Jesus is a good shepherd who has to present the love of God to God’s peoples. The most concrete of Jesus’ services to the poor revealed by the power of Himself to feed the hungers, to heal the illness,  and to spread the Kingdom (love) of God to those who are yearning for God’s love and help. After doing glorious things for the poor, Jesus then demanding those who have been experiencing God’s love to be more faithful to God and doing good things for others.

            The research applied a qualitative method which tried to collect and analyze data of the study verbally. This means that the research did not apply a statistical method in analyzing data. The reason of choosing qualitative method is due to the data of study collected directly in the field of study through a so-called in-depth interview with respondents of the study. Aside from this, qualitative research could be cultivated to construct a more comprehensive information and knowledge pertaining to the subject being studied. The results of data analysis shown that majority of respondents basically had shown particular concerns to the poor. Concrete concerns were revealed by respondents in empowering the poor throughout SSV’s programs related to agricultural activities, animal husbandry and scholarship aid.

The challenges experienced by respondents in helping the poor were related to the limitation of their times, energies, and financial resources. Even though, the respondents said that they have had tried their best to overcome those challenges by spending a more regular times to involve with the poor, spending some of their monthly incomes for the poor; strengthening their own faith on God, encouraging others to help the poor , and to educate and guide the poor to be self-help.

 Keywords: poor, Luke, serve

I. Pendahuluan

Dalam era modern saat ini masyarakat pada umumnya cenderung mementingkan keuntungan bagi diri sendiri dan menghalalkan berbagai cara  untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besanya. Situasi ini membuat banyak orang terutama orang kecil kehilangan hak-haknya atas kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Kehilangan hak-hak ini dapat menjadi penyebab utama kemiskinan. Jadi kemiskinan tidak semata-mata disebabkan oleh kebodohan dan kemalasan seseorang.

Teringkarnya hak-hak kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan yang mendatangkan kemiskinan ini sangat bertentangan dengan sikap Gereja yang sangat menekankan penghargaan terhadap hak dan martabat manusia, keadilan serta kasih persaudaraan. Allah menghendaki agar manusia diperlakukan secara adil dan hak-haknya dilindungi agar dapat berkembang menjadi pribadi yang sempurna seperti Allah yang sempurna adanya (bdk. GS. 35).

Melihat kenyataan hidup yang bertentangan dengan harapan Gereja itu maka Gereja menghendaki supaya umat beriman Kristiani menaruh perhatian khusus kepada orang-orang kecil, miskin, bodoh, dan termarginalisasi dalam masyarakat. Perhatian terhadap orang kecil seperti ini diberikan dengan mencontoh Yesus sendiri  yang semasa hidup-Nya begitu memperhatikan orang-orang kecil, miskin, sakit, berdosa. Menghadapi orang sakit, Yesus menyembuhkan mereka dan menghadapi orang lapar dan berdosa, Yesus mengampuni dosa dan memberi mereka makan. Ketika berhadapan dengan orang-orang lapar dan haus akan Kerajaan Allah, Yesus memberikan mereka pengajaran tentang Kerajaan Allah.

Para katekis adalah Rasul (awam) dalam Gereja. Mereka di panggil Allah untuk mewartakan Injil dan menguduskan umat beriman. Tugas pewartaan ini dilakukan berkat pembabtisan yang menjadikan mereka sebagai anggota Gereja, berkat sakramen penguatan yang meneguhkan mereka, serta Ekaristi Kudus yang  memberi kekuatan rohani agar mereka tetap beriman pada Yesus dan setia memberi kesaksian tentang Yesus. Karya pewartaan tidak hanya dilakukan para katekis di dalam kelas atau dalam ruangan saja dengan kata-kata melulu melainkan juga perlu di peragakan secara konkrit melalui perbuatan baik dan nyata terutama bagi orang-orang kecil, miskin, dan tersingkirkan di tengah masyarakat seperti halnya dilakukan Yesus dalam Injil Lukas 9: 10-17.

Dalam hidup sehari-hari tidak jarang para katekis mewartakan Injil hanya dengan kata-kata dan nasehat melulu. Tetapi begitu susah menghayatinya sendiri secara konkrit lewat pengorbanan riil kepada sesama terutama bagi mereka yang miskin, kecil, dan tidak diperhitungkan.

Situasi ini mendorong penulis memperdalam tema tulisan tentang katekis dan pelayanan kepada masyarakat miskin dengan judul: SEMANGAT PELAYANAN YESUS KEPADA ORANG MISKIN MENURUT INJIL LUKAS 9:10-17 DAN RELEVANSINYA BAGI TUGAS PELAYANAN SEORANG KATEKIS. Dalam menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan metode  atau teknik wawancara. Sumber-sumber untuk tulisan ini berasal dari berbagai buku, dokumen, majalah, dan internet. Sumber tersebut pada dasarnya berkaitan langsung dengan tema skripsi yang dibahas.

II  Semangat Pelayanan Yesus Kepada Orang Miskin Menurut Injil Lukas 9:10-17 Dan Relevansinya Bagi Karya Pelayanan Katekis Dewasa Ini

 2.1 Konsep tentang Orang Miskin

2.1.1 Orang Miskin adalah Orang yang Sakit Fisik

Selain berbicara tentang Kerajaan Allah, Yesus juga mengungkapkan hakekat Kerajaan Allah secara konkrit melalui penyembuhan orang-orang sakit. Hal ini disebabkan kehadiran Kerajaan Allah diperuntukan pula bagi orang-orang yang sakit fisik. Sabda Yesus ”bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit. Injil Lukas 9: 11 mengatakan ”Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah, dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan”.

Orang yang sakit adalah orang yang mengalami penderitaan, kesusahan, dan dukacita baik secara fisik maupun mental. Mereka ini termasuk kelompok orang yang tidak berdaya karena itu sangat membutuhkan bantuan dan belas kasih Tuhan. Stefan Leks (2003:121) dalam komentarnya tentang Sabda Bahagia mengartikan orang yang berdukacita sebagai orang miskin yang merasa tidak berdaya secara fisik dan mental sehingga membutuhkan uluran tangan atau bantuan dari Allah. Allah sendiri akan memberikan kepada orang miskin ini sukacita kehidupan.

2.1.2. Orang Miskin adalah Orang yang Lapar akan Makanan Jasmani

Stefan Leks (2003: 120-121) dalam komentarnya tentang Sabda bahagia dalam Injil Matius 5: 3 memberi penjelasan bahwa orang miskin dalam masa sekarang ini merupakan orang-orang yang berkekurangan secara materi atau lapar karena kekurangan makanan dan minuman.

Diskusi ini menampilkan konsep tentang orang miskin sebagai orang-orang yang kekurangan makanan. Dalam hidup sering dijumpai banyak orang yang kekurangan makan karena malas kerja, kondisi/struktur sosial politik dan ekonomi kurang menguntungkan atau karena lahan pertanian mereka telah dirampas dan dikuasai orang lain. Terhadap orang-orang seperti ini Yesus selalu menaruh perhatian, merasa iba, dan siap membantu mereka. Peristiwa Yesus memperbanyak roti untuk mengusir rasa lapar ribuan orang yang lapar menunjukkan perhatian dan komitmen Yesus yang sangat besar terhadap orang miskin ini.

2.1.3. Orang Miskin adalah Kelompok Orang yang Mencari dan Rindu akan  Yesus

Konsep tentang orang miskin yang lebih ditekankan dalam perikop ini adalah orang-orang yang rindu dan ingin berjumpa dengan Yesus dan mendengarkan warta tentang Kerajaan Allah. Penginjil Lukas lebih sering menyoroti orang-orang yang miskin dalam arti spiritual dan bukannya miskin karena kekurangan materi. Mereka ini datang kepada Yesus pertama-tama bukan karena didorong rasa lapar secara fisik melainkan kerinduan untuk mendapatkan santapan rohani dari Yesus yaitu makanan yang tidak hanya menghilangkan rasa lapar fisik, tetapi memberi kepuasan rohani/spiritual yaitu rahmat atau karunia kaselamatan. Karunia inilah yang memberikan kehidupan kekal kepada seseorang (Luk 9:11).

Jadi mereka mengikuti Yesus karena lebih termotivasi oleh kerinduan dan hasrat yang mendalam untuk berjumpa dengan Yesus sebagai seorang gembala yang baik hati dan yang dapat merespon secara tepat berbagai kebutuhan hibup mereka terutama kebutuhan spiritual atau rohani. Di dalam Yesus mereka yakin bisa menemukan hidup yang sesungguhnya dan dapat bergabung dengan kaum beriman lainnya (bdk: Mzm 22:27-32; 132:15).

2.2. Alasan Yesus Melayani Orang Miskin

Setiap orang miskin selalu diperhatikan dan disapa Yesus. Mereka yang lapar diberi makanan, mereka yang sakit disembuhkan, dan mereka yang haus dan lapar akan kuasa Allah diberikan pengajaran tentang Kerajaan Allah. Hal ini dilakukan Yesus sebab Kerajaan Allah diperuntukan bagi orang-orang miskin yaitu orang yang lapar, sakit, dan merindukan kerajaan Allah. Kerajaan Allah hadir pertama-tama untuk mereka yang menderita dan sakit. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit.

Yesus memberikan teladan/contoh yang luar biasa kepada semua umat beriman katolik, terutama para katekis supaya selalu terbuka, memberi perhatian, dan pelayanan kepada orang-orang miskin, kecil, dan menderita. Pertanyaan ialah: mengapa Yesus begitu memperhatikan orang miskin/kecil dan menghendaki agar umat beriman terutama para katekis  juga menaruh perhatian dan pelayanan kepada orang miskin.

Injil Lukas 9:10-17 menampilkan diri Yesus sebagai seorang gembala yang sungguh memperhatikan kebahagiaan, keamanan serta ketentraman hidup dombanya dengan memberi makanan kepada mereka yang lapar, menyembuhkan mereka yang sakit, dan mengajarkan kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Dengan tindakan seperti ini Yesus sungguh memberikan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kelimpahan hidup kepada umat Allah. Tugas pelayanan atau penggembalaan ini perlu dilanjutkan oleh para murid Yesus termasuk para katekis. Jadi para katekis hendaknya memiliki perhatian dan semangat  pelayanan yang konkrit kepada orang kecil seperti Yesus.

2.3. Bentuk Konkret Pelayanan Yesus kepada Orang Miskin

Injil Lukas 9:10-17 mengungkapkan 4 bentuk konkret tindakan pelayanan Yesus kepada orang miskin yaitu: memberi mereka makan, menyembuhkan mereka dari penyakit, memberi waktu dan perhatian kepada orang miskin, dan mengajarkan kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

2.3.1. Memberi Mereka Makan

Yesus menantang para murid-Nya dengan berkata kepada mereka: ”Kamu harus memberi mereka makan” (Luk 9: 13). Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus begitu memperhatikan dan merasa iba terhadap orang banyak sehingga Ia menyuruh murid-murid-Nya untuk memberikan makanan kepada mereka agar tidak kelaparan dan bisa mendengarkan pengajaran akan Yesus. Tujuan Yesus memberikan makanan jasmani ini ialah supaya mereka tetap kuat untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Bila tidak diberi makanan maka mereka pasti akan kecewa dan tidak bisa mendengarkan pengajaran secara penuh.

Perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak dipahami sebagai ungkapan rasa simpati yang mendalam yang timbul dalam diri seseorang pada saat melihat penderitaan sesamanya sehingga ia merasa wajib untuk memberi bantuan. Yesus mengungkapkan rasa iba kepada  orang banyak. Perasaan iba itulah yang telah mendorong Yesus untuk menyembuhkan orang buta (bdk: Mat 10:34), membangkitkan putra janda dari Nain (Luk 7:13), mentahirkan orang berpenyakit kusta (bdk. Mrk 1:41), dan permintaan seorang ayah agar Yesus menunjukkan belas kasih kepada anaknya dengan menyembuhkan anak dari sakit (Mrk 9:22). Semuanya menunjukkan bahwa mukjizat yang di lakukan Yesus itu bertujuan mengungkapkan tanda-tanda penyelamatan sekaligus kerahiman Allah sendiri kepada  orang banyak.

2.3.2. Menyembuhkan Mereka dari Penyakit

Yesus menyembuhkan orang sakit semata-mata karena belas kasihan (bdk. Matius 8: 1-4; Markus 1: 40-45; Lukas 5: 12-16).  Sabda Tuhan: “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Markus 1:41). Disini ditunjukkan bahwa Yesus memiliki emosi, perhatian atau kepedulian terhadap orang sakit. Ketika menyembuhkan orang sakit Yesus biasanya mengulurkan tangan, menyentuh orang sakit itu serta  menyembuhkannya. Hubungan emosional dan kedekatan Yesus dengan orang-orang miskin dan kecil terletak pada tindakan Yesus ini.

Iman merupakan prasyarat yang dibutuhkan untuk penyembuhan. Iman pada umumnya diartikan sebagai pengakuan manusia atas diri Yesus sebagai agen Allah. Yesus memiliki kuasa untuk melakukan setiap perbuatan baik termasuk penyembuhan kepada setiap orang yang percaya kepada Allah.

2.3.3. Memberitakan Kerajaan Allah kepada Orang Kecil

Pemberitaan tentang Kerajaan Allah merupakan tugas perutusan utama Yesus dan para murid-Nya. Yesus dan para Rasul-Nya membutuhkan waktu khusus untuk melakukan evaluasi tentang apa yang mereka telah kerjakan lalu beristirahat. Hal ini terungkap secara jelas dalam Injl Lukas 9:10: Sekembalinya rasul-rasul itu menceriterakan kepada Yesus apa yang mereka  kerjakan. Lalu Yesus membawa mereka dan menyingkir ke sebuah kota yang bernama Betsaida, sehingga hanya mereka saja bersama Dia.

Orang Katolik yang percaya kepada Yesus terutama para katekis harus memiliki sikap dan teladan untuk memberikan waktu dan perhatian secara tulus kepada setiap orang terutama orang miskin di sekitarnya sebagaimana dikehendaki Yesus. Kasih dan perhatian yang diberikan ini merupakan bagian dari tugas kerasulan. Kasih dan perhatian itu hendaknya konkrit sebagaimana Yesus sendiri memberikan waktu untuk bertemu, berbicara, menguatkan, menyembuhkan, dan memberi makan kepada orang-orang yang kecil, sakit, miskin, dan lapar.

2.4. Tuntutan Yesus kepada Orang Miskin

Injil Lukas 9: 10-17 memperlihatkan bahwa Yesus tergerak hatinya untuk memberi pengajaran tentang Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan memperbanyak roti untuk banyak orang karena Yesus melihat bahwa mereka yang mengikutinya memiliki kerinduaan, keterbukaan serta ketaatan kepada Yesus.

2.4.1. Terbuka dan Taat kepada Yesus

Yesus rela menggagalkan rencana-Nya bersama para Rasul untuk beristirahat dan menerima dengan ramah/gembira orang-orang yang mengikuti-Nya. Yesus tentu saja ingin memberikan teladan kepada murid-murid-Nya tentang bagaimana bersikap kepada orang-orang yang merindukan Allah. Dengan merangkul orang yang rindu akan Allah, Yesus sendiri telah membangun sebuah komunitas/himpunan umat beriman yang tertib (Luk 9:11).

Yesus menuntut para murid-Nya dan semua orang yang percaya kepada-Nya untuk taat kepada Allah sebagaimana Yesus sendiri yang selalu taat dan setia kepada Allah dalam hidupnya sampai wafat demi menebus dosa umat manusia. Wafat Yesus merupakan bukti ketaatan dan kesetiaan-Nya kepada Allah.

2.4.2. Memaklumkan Injil

Memaklumkan Injil berarti memaklumkan warta gembira tentang Allah yang menyelamatkan manusia secara nyata melalui kata dan perbuatan Yesus. Injil itu sendiri diartikan sebagai pemberitaan tentang aktivitas penyelamatan Allah di dalam  diri Yesus (bdk. Roma 1:1; Markus 1:1). Lukas 9:10 menceritakan tentang para Rasul yang mewartakan Injil Tuhan. Injil Lukas 9: 11 menceritakan  tentang Yesus yang  menerima orang banyak yang mengikutinya dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Kedua ayat ini mengatakan bahwa Yesus hanya terbuka dan hadir bersama orang-orang yang percaya dan rindu akan Allah dan aktif mewartakan Kerajaan Allah atau kuasa/kasih Allah yang menguasai hidup manusia.

Kuasa Allah yang menyelamatkan manusia itu diajarkan/diberitakan Yesus melalui kata-kata-Nya sendiri dan juga melalui perbuatan-perbuatan penuh kuasa. Yesus menunjukkan bahwa Allah itu begitu memperhatikan manusia dan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa kepada manusia melalui Yesus yang memperbanyak roti dan ikan untuk mengenyangkan ribuan orang. Tanpa keterbukaan dan kerinduan terhadap kuasa Allah, manusia tidak bisa mengalami kekuatan Allah yang mencintai dan mengasihinya. Pemberian makanan kepada ribuan orang mengandung arti dan makna kepada para murid Yesus termasuk para katekis bahwa mereka mempunyai tanggungjawab memberi makanan kepada orang banyak terutama melalui pengajaran dan pelayanan mereka (Bergant, 2002).

2.4.3. Beriman kepada Allah

Penginjil Lukas berupaya menyadarkan para pembaca bahwa kisah ini jangan dibaca sebagai laporan semata-mata melainkan sebagai salah satu tindakan Yesus memperkenalkan kepada orang banyak tentang  Kerajaan Allah.  Peristiwa pergandaan roti dan ikan tidak hanya menunjukkan suatu peristiwa kasih dan kebaikan yang dilakukan Allah pada masa lampau tetapi juga peristiwa yang terus dilakukan Allah dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kesadaran manusia akan perbuatan baik Allah ini hanya bisa terjadi apabila manusia beriman kepada Allah. Iman ini muncul karena mendengar pewartaan tentang Allah serta pengalaman akan kasih dan kebaikan Allah. Melihat pentingnya pewartaan dan perbuatan kasih ini maka Injil Lukas menegaskan bahwa sebelum melakukan mukjizat mempergandakan roti, Yesus terlebih dahulu mengajarkan kepada orang banyak tentang Kerajaan Allah (bdk. Luk 9:11).

Yesus sesungguhnya memberikan teladan kepada para murid dan Gereja-Nya khususnya para katekis tentang tanggung jawab mereka dalam membangun dan memupuk iman umat kepada Allah lewat pengajaran atau katekese. Hanya dengan iman, manusia pada situasi apapun bisa mendapatkan keselamatan Allah.

2.5. Yesus Melibatkan Allah dan Manusia dalam Karya Pelayanan

Kisah Lukas tentang Yesus memberi makan lima ribu orang ini melibatkan elemen Allah dan manusia. Yesus melibatkan Allah sebab Allah merupakan sumber keselamatan dan kebahagiaan manusia. Yesus diutus Allah ke dunia dengan tugas istimewa yaitu memperkenalkan Allah sebagai sumber kehidupan manusia. Yesus juga melibatkan manusia sebab manusia, terutama mereka yang mendengarkan dan percaya kepada pewartaan Yesus Allah harus melanjutkan karya pewartaan Yesus ini. Para katekis secara khusus dipanggil dan dipilih Yesus untuk melanjutkan karya-Nya ini.

2.5.1 Yesus Melibatkan Allah

Lewat  pengajaran dan mukjizat yang dikerjakan, Yesus sesungguhnya telah menyatakan misi dan identitas dirinya serta hubungannya dengan Allah. Allah merupakan Bapa yang mengutus-Nya ke dunia untuk memperkenalkan Kerajaan Allah kepada manusia. Karena misi Yesus berasal dari Allah maka Yesus selalu melibatkan Allah dalam setiap pekerjaan-Nya. Dalam kisah tentang Yesus memberi makan kepada lima ribu orang, Yesus juga melibatkan Allah di dalam-Nya sekaligus menujukkan adanya hubungan intim antara Allah dan Yesus.

Yesus hendak memberikan teladan kepada para murid,  Gereja, dan katekis bahwa pewartaan terhadap Kerajaan Allah dan pelayanan kepada umat manusia tidak bisa dipisahkan dari daya dan kekuataan Allah. Sebab Allah sendiri akan memberi kekuatan atau kemampuan kepada manusia untuk mewartakan kasih dan kebaikan Allah. Para murid Yesus hendaknya mengandalkan dan menggunakan kuasa Allah dalam karya pewartaan dan pelayanan. Tanpa keterlibatan Allah maka semua hal yang dilakukan para murid Yesus tidak akan berhasil atau mustahil.

2.5.2. Yesus Melibatkan Manusia

Dalam peristiwa perbanyakan roti dan ikan ini Yesus juga melibatkan manusia (Para Rasul dan orang banyak yang mengikuti-Nya). Dengan melibatkan  manusia Yesus sesungguhnya telah mengajarkan tentang tanggung jawab dan keterlibatan nyata para Rasul dan umat beriman dalam memberi bantuan dan pelayanan kepada sesama yang sedang mengalami kesulitan dan persoalan hidup.

Keterlibatan Allah dan manusia dalam peristiwa Yesus memperbanyak roti dan ikan itu pada akhirnya menghasilkan buah berlimpah. Sebab keterlibatan Allah mengakibatkan mukjizat perbanyakan roti dan ikan itu bisa terjadi, dan keterlibatan manusia membuat setiap orang bisa dengan cepat dan mudah mendapatkan pelayanan sebagaimana dikehendaki Allah.

III   Semangat Pelayanan Yesus Kepada Orang Miskin Menurut Injil Lukas 9:10-17 Dan Relevansinya Bagi Karya Pelayanan Katekis Dewasa Ini

3.1 Pengertian Katekis

Dokumen Konsili Vatikan II dalam Dekrit Apostolicam Actuositatem telah memberi sebuah gambaran tentang katekis awam. Katekis awam merupakan Rasul dalam Gereja yang melaksanakan tugas perutusan mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia (bdk. Apostolicam Actuositatem 6). Tugas pewartaan ini dilakukan berkat pembabtisan yang menjadikannya sebagai anggota Gereja, dan berkat sakramen penguatan yang meneguhkannya dalam terang Roh Kudus, serta Ekaristi kudus yang memberi jiwa kerasulan dalam Yesus Kristus (bdk. Apostolicam Actuositatem 3).

Katekis adalah semua umat beriman Kristiani, baik klerus maupun awam yang dipanggil dan diutus Allah menjadi pewarta Sabda-Nya. Profesi kehidupan seorang katekis ialah mengajar dan mewartakan Sabda Allah  kepada  umat. Dari pengertian tentang katekis, bisa ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi katekis tidak hanya kaum awam tetapi juga klerus. Para klerus dan Pastor paroki merupakan katekis utama dalam parokinya. Sebagai katekis, mereka bertugas mengajar agama dan moral Kristiani kepada umat yang dipercayakan kepadanya. Mereka menjadi batu penjuru bagi umat yang ingin mengetahui hakekat kehidupan Kristiani dan ingin mengenal Yesus sebagai penyelamat.

3.2  Katekis dan Panggilan Yesu

Panggilan untuk mengikuti Yesus berarti panggilan untuk hidup bersama Yesus dan mengambil bagian dalam karya Yesus. Panggilan ini merupakan prakarsa Yesus sendiri (Mat 4:19,21; 9: 9;10:1; Mrk 1:17, 20; 2: 14). Panggilan ini perlu diterima dengan penuh syukur. Prasetya, dkk (2007: 64) menegaskan bahwa panggilan menjadi murid merupakan inisiatif atau prakarsa Yesus sendiri karenanya panggilan itu merupakan anugerah Ilahi dan bukan karena keinginan manusia semata. Karena itu hendaknya panggilan ini diterima dengan penuh syukur.

Seorang katekis dipanggil menjadi katekis atau pewarta bukan karena pilihan atau kemauan sendiri tetapi karena panggilan dan pilihan Allah untuk menjadi pewarta kasih dan kebaikan Allah. ”Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Menjadi katekis berarti menjadi saksi tentang kebaikan dan keselamatan Allah. Katekis pada tempat pertama perlu memberi kesaksian tentang kebaikan Allah yang ia sendiri alami. Kesaksian seperti ini sangat penting karena melalui pengalaman sendiri Ia mengajak orang lain untuk mengalami kasih dan kebaikan Allah yang sama. Inilah bentuk perwartaan tentang yang paling konkrit dan mengena. Pengalaman katekis sendiri tentang kasih dan kebaikan Allah menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam mewartakan Injil tentang keselamatan Allah. Dengan pengalaman akan kasih Allah ini setiap katekis diharapkan memiliki semangat pantang menyerah dalam mewartakan Injil atau kasih Allah sebagaimana yang di katakan Rasul St. Paulus ”Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” ( 1 Kor 9:16).

3.3 Katekis dan Pelayanan Orang Miskin

Orang miskin pada zaman sekarang bisa diartikan sebagai orang yang sedang mengalami penderitaan secara rohani, material, politik, dan sosial ekonomi. Yesus berpihak kepada orang-orang miskin seperti ini. Injil Luk 4:18-20 mengatakan: “Roh Tuhan ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya”.

Sebagaimana Yesus, katekis dipilih Allah untuk mewartakan kabar gembira dan melayani sesama manusia secara konkrit. Allah sendiri benar-benar hadir membantu, meneguhkan, menguatkan para katekis terlebih ketika berhadapan dengan berbagai persoalan dan rintangan.

3.3.1 Memberi Waktu dan Perhatian pada Orang Miskin

Seorang katekis dipanggil untuk meneladani Yesus yang telah memberi waktu dan perhatian-Nya kepada siapa saja, terutama kepada orang-orang miskin atau kecil. Yesus sendiri senantiasa rela mengorbankan tenaga dan pikiran serta waktu istirahat-Nya demi melayani orang-orang miskin dan lapar secara rohani maupun jasmani. Pelayanan itu dilakukan dengan memberikan kepada mereka makanan jasmani, tetapi terlebih santapan surgawi melalui pengajaran tentang Injil atau Kerajaan Allah. Injil adalah kabar baik atau kabar sukacita tentang kasih dan kebaikan Allah yang diperuntukkan terutama bagi orang miskin dan kecil. Mereka merupakan orang-orang yang tidak berdaya baik secara sosial ekonomi maupun politik. Mereka miskin dalam segala hal baik rohani, material, politik, sosial, dan ekonomi (Yosef  P, Widyatmadja, 2010: 25-26).

Para katekis dipanggil untuk memberi pelayanan kepada semua orang termasuk orang-orang yang kurang iman, sakit, lapar, sudah tua, dan tidak berdaya. Terhadap orang sakit, para katekis perlu membantu mereka supaya dapat memahami nilai salib yang membebaskan, hidup dalam persekutuan dengan Yesus, bergembira menanggung beban hidup sendiri. Para katekis perlu mengunjungi orang-orang ini untuk menyampaikan Sabda Tuhan kepada mereka, menghibur, mendoakan, dan menguatkan iman mereka. Hendaknya para katekis berupaya mengembangkan komunikasi dan persekutuan dengan umat beriman terutama dengan yang kecil dan menderita (bdk Mat 8:17; Yes 53:4; Komisi Kateketik KWI,1997: 31).

3.3.2 Memberi Pengajaran pada Orang Miskin

Para katekis hendaknya memberikan pengajaran kepada orang miskin atau kecil dengan lebih mengandalkan kuasa Allah seperti dilakukan oleh Yesus sendiri. Injil Matius mengatakan bahwa hal yang membedakan Yesus dari para ahli hukum Yahudi ialah Yesus mengajar kepada orang banyak ”dengan kuasa Allah”.  Jadi Allah sendiri hadir menuntun para katekis dengan kuasa-Nya sendiri dalam setiap kegiatan pewartaan. Pewartaan itu dilakukan para katekis terutama kepada orang-orang kecil dan miskin karena kelompok orang ini lebih terbuka terhadap Kerajaan Allah  (Michael Keene, 2006: 16-17).

 Bernard T, Adepey ( 2000: 69) mengatakan bahwa pengajaran-pengajaran Yesus penuh dengan contoh tentang komitmen konkret Allah kepada orang-orang  kecil, miskin, tersingkir, dan kurang mendapat perhatian dalam masyarakat. Hal ini bisa terlihat dari inisiatif Yesus menjumpai orang-orang di pesta pernikahan, di tepi danau tempat para nelayan melemparkan dan menarik jala, di sumur di tepi jalan tempat perempuan-perempuan mengambil air, di rumah orang sakit, serta  mengampuni dosa para pendosa, serta meneguhkan dan menguatkan mereka yang susah. Demikian pula katekis tidak hanya memberikan pengajaran dengan kata-kata  tetapi perlu disertai dengan komitmen khusus.

3.3.3 Memberi Makan kepada Orang Miskin

Yesus senantiasa memberi perhatian kepada orang-orang sakit, lapar, berkekurangan, tersingkir dari masyarakat. Inilah inti tugas perutusan Yesus. Sebagaimana Yesus, para katekis hendaknya selalu berada di tengah atau bersama orang kecil dan miskin (Jean Vanier, 2009: 470).

Salah satu tugas perutusan para katekis ialah menunjukkan kasih Yesus bagi orang-orang miskin atau kecil. Setiap kali seorang katekis memberi makan kepada orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, mendengarkan orang yang ditolak dan membangun persatuan serta damai di antara orang-orang yang bermusuhan berarti ia benar-benar telah menghadirkan Yesus secara konkrit kepada sesama manusia. Orang lapar, sakit, dan tertindas dalam hidup sehari-hari selalu ada. Mereka sangat membutuhkan perhatian dan kasih konkrit dari Gereja termasuk katekis (Henry J, Nouwen, 2003: 5 ;  Millburn Thompson, 2009:365).

3.3.4 Menyembuhkan Penyakit dari Orang Miskin

Rochadi Widagdo (2003: 114) mengatakan bahwa peristiwa penyembuhan yang dilakukan Yesus menunjukkan bahwa Allah sungguh-sungguh mencintai orang kecil ini. Allah ingin agar semua orang diselamatkan dan mengalami kasih-Nya. Sabda Tuhan ”Bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah mengasihi kita dan yang telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (Yoh 4:10). Penyembuhan merupakan puncak dan kepenuhan karya keselamatan Allah.

Sebagaimana Yesus, para katekis juga dituntut terlibat dalam karya pelayanan orang sakit dengan mendoakan dan menghibur mereka. Pelayanan terhadap orang sakit tidak boleh dipandang kecil dan remeh. Pelayanan itu dapat memberi kekuatan, harapan, kesembuhan kepada orang sakit. Pelayanan dapat membawa seseorang pada pertemuan dan persekutuan pribadi dengan Allah (Komisi Kateketik, 2004: 49).

  1. Hasil Penelitian Semangat Pelayanan Yesus Kepada Orang Miskin Menurut Injil Lukas 9:10-17 Dan Relevansinya Bagi Karya Pelayanan Katekis Dewasa Ini

Hasil analisa data menunjukkan bahwa 6 (60%) responden mengartikan orang miskin sebagai orang yang mengalami kekurangan dari segi materi. Analisa  data juga menunjukkan bahwa 5 (50 %) responden mengartikan kemiskinan secara lebih rohani yakni kemiskinan dilihat sebagai kerinduan seseorang akan Yesus dan ajaran-Nya. Hanya 1 (10%) responden mengartikan orang miskin sebagai orang yang tersingkirkan dari masyarakat. Jadi dari hasil analisa data di atas dapat disimpulkan para responden pada dasarnya mengartikan orang miskin sebagai: 1) orang yang mengalami kekurangan dari segi materi (kemiskinan ekonomi); 2) orang yang rindu dan haus akan kasih, kebaikan dan keselamatan Allah; 3) orang yang tersingkir dari masyarakat dan tidak menduduki jabatan atau kedudukan sosial.

Hasil analisa data lapangan menunjukkan bahwa 7 (70%) responden mengatakan bahwa mereka disebut sebagai orang miskin karena mengalami kekurangan secara material dan karena itu membutuhkan pertolongan secara materi demi kelangsungan hidup. Analisa data lapangan juga menunjukkan bahwa  6 (60%) responden mengatakan bahwa orang miskin pada dasarnya membutuhkan pertolongan secara rohani atau membutuhkan kasih dan kebaikan Tuhan.  Orang menjadi miskin karena beberapa alasan: kekurangan harta dan materi; jauh dari sumber kasih dan kebaikan Allah; hak sosial, politik, dan ekonomi dirampas oleh para penguasa. Orang miskin dan susah bukan pertama-tama karena malas kerja dan bodoh tetapi karena struktur sosial ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan.

Hasil analisa data lapangan mengungkapkan bahwa 6 (60%) responden mengatakan bahwa hal yang mendorong atau memotivasi Yesus untuk melayani orang miskin ialah karena belas kasih dan cinta Yesus kepada manusia. Hasil analisa data lapangan juga mengungkapkan bahwa 4 (40%) responden mengatakan bahwa hal yang memotivasi Yesus untuk melayani orang miskin ialah karena Yesus sadar akan misi-Nya untuk menyelamatkan semua orang, mewujudkan kerajaan Allah dengan menyembuhkan orang sakit, mengenyangkan orang yang lapar, dan mengampuni dosa dari orang-orang berdosa. Hanya 1 (10%) responden berpendapat bahwa memotivasi Yesus melayani orang miskin, tertindas, dan tersingkir ialah karya Yesus didunia ini pertama-tama memang untuk orang miskin, sakit, dan tidak di perhitungkan dalam masyarakat.

Jadi berdasarkan hasil kajian data lapangan di atas disimpulkan bahwa kasih Yesus itu begitu besar kepada semua orang, terutama mereka yang sakit dan lapar secara rohani dan jasmani. Kasih Yesus inilah yang mendorong Yesus untuk melayani orang miskin, lapar, dan tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Yesus memberi perhatian begitu besar kepada kelompok orang ini karena Yesus sadar bahwa misi-Nya di dunia ini ialah menyelamatkan semua orang, mewujudkan kerajaan Allah dengan cara menyembuhkan orang sakit, mengenyangkan orang yang lapar, dan mengampuni dosa orang-orang bertobat serta percaya kepada-Nya.

Hasil analisa data lapangan menunjukkan bahwa 7 (70%) responden berpendapat bahwa tindakan konkrit dilakukan Yesus sebagai ungkapan cinta, perhatian, dan pelayanan-Nya secara konkrit kepada orang miskin ialah melakukan mukjizat mempergandakan roti agar bisa dimakan banyak orang yang lapar karena seharian penuh mengikuti Yesus dan para Rasul-Nya. Selain itu, hasil analisa data lapangan juga menunjukkan bahwa 4 (40%) responden mengatakan bahwa tindakan konkrit Yesus ialah memberi kesembuhan. Jadi berdasarkan hasil analisa data lapangan di atas dapat disimpulkan secara umum, bahwa para responden berpendapat tindakan nyata dilakukan Yesus sebagai ungkapan cinta dan perhatian-Nya kepada orang miskin ialah mempergandakan roti dan ikan agar bisa dimakan banyak orang yang mengikuti-Nya, menyembuhkan orang sakit, dan mengajarkan Kerajaan Allah kepada mereka.

Hasil analisa data lapangan menunjukkan 8 (80%) responden mengatakan orang miskin menurut pemikiran mereka adalah orang-orang yang mengalami kekurangan secara material, keuangan, kesehatan dan perumahan buruk, pendidikan rendah, dan kekurangan gizi. Dan hasil analisa data lapangan juga menunjukkan 7 (70%) responden mengatakan orang miskin juga berarti orang yang kurang iman kepada Tuhan, kurang kasih dan perhatian kepada sesama manusia, dan juga orang yang rindu akan kasih, kebaikan, dan pengampunan Tuhan. Jadi berdasarkan kajian data lapangan dapat disimpulkan bahwa orang miskin menurut para responden adalah: 1) orang-orang yang mengalami kekurangan secara material, keuangan, kesehatan dan perumahan buruk, dan kekurangan gizi; 2) orang miskin juga adalah orang  bodoh, malas, dan tidak disiplin; dan 3) orang yang kurang iman kepada Tuhan, kurang kasih dan perhatian kepada sesama dan juga orang yang rindu akan kasih, kebaikan, dan pengampunan Tuhan.

Hasil analisa data menunjukkan bahwa 7 (70%) responden mengatakan tindakan nyata yang dilakukan responden kepada orang miskin ialah membantu kelompok orang ini melalui program pemberdayaan sosial ekonomi SSV baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun di Gereja. Kemudian data lapangan juga menunjukkan bahwa 5 (50%) responden mengatakan tindakan nyata yang di lakukan kepada orang miskin ialah memberikan bantuan rohani. Jadi berdasarkan hasil analisa data lapangan disimpulkan bahwa tindakan nyata dilakukan para responden kepada orang miskin ialah membantu kelompok orang ini antara lain melalui program pemberdayaan sosial ekonomi SSV.

Hasil analisa data lapangan menunjukkan bahwa 5 (50 %) mengatakan  tantangan yang mereka hadapi ialah keterbatasan waktu karena berbagai macam kesibukan, tenaga, dana, dan tempat tinggal yang berjauhan dengan orang-orang yang ditolong. Hasil analisa data lapangan juga menunjukkan terdapat 4 (40%) responden mengatakan tantangan yang dialami ialah para responden sendiri harus punya iman yang kuat karena melakukan karya pelayanan sosial terutama membantu orang kecil dan miskin itu tidak ada imbalannya. Jadi berdasarkan hasil analisa data diatas, dapat dikatakan bahwa tantangan yang dihadapi para responden antara lain: 1) keterbatasan waktu karena berbagai macam kesibukan lain, keterbatasan tenaga, dan dana; 2) ditantang untuk memiliki iman yang kuat karena melakukan pelayanan sosial berarti tidak boleh harapkan imbalan; 3) kadang-kadang tertipu orang-orang yang pura-pura menjadi miskin untuk dapatkan sesuatu; dan 4) terdapat tipe orang yang tidak mau merubah hidupnya sendiri.

Hasil analisa data lapangan menunjukkan bahwa 4 (40 %) responden mengatakan usaha mereka untuk mengatasi kesulitan dalam melayani orang miskin ialah membagi waktu atau mengatur kegiatan mereka secara baik agar selalu ada waktu untuk pelayanan kepada mereka yang susah dan butuh perhatian. 4 (40%) responden mengatakan usaha yang mereka lakukan untuk mengatasi kesulitan itu ialah menyimpan sedikit dari penghasilan mereka untuk diberikan kepada orang miskin melalui Gereja, SSV atau secara langsung, dan memberanikan diri mengajak orang lain untuk turut membantu yang sedang mengalami kesulitan hidup, serta mencari waktu untuk mendekati orang-orang itu dengan tujuan memberi penyadaran agar mulai mencoba mengubah hidup dengan kemampuan yang ada. 1 (10%) responden mengatakan terus berusaha mencari berbagai macam cara untuk membantu mereka dengan meningkatkan kemampuan dan metode mengajar, membawa mereka ke Gereja untuk ikut kegiatan Ekaristi, dan terus berusaha mengintensifkan pendampingan rohani.

Jadi berdasarkan hasil analisa data lapangan dapat di simpulkan bahwa para responden mengakui berupaya mengatasi berbagai tantangan yang di hadapi dalam membantu orang-orang kecil dengan cara: 1) membagi waktu atau mengatur kegiatan mereka sedemikian rupa agar selalu ada waktu untuk memberi perhatian kepada orang-orang kecil dan sedang susah; 2) menyisihkan sedikit dari pendapatan mereka untuk diberikan kepada orang yang sedang susah; 3) memberanikan diri mengajak orang lain untuk turut membantu orang-orang yang susah; dan 4) mencari berbagai macam cara untuk membantu mereka misalnya dengan meningkatkan kemampuan dan metode mengajar, membawa mereka ke Gereja untuk kegiatan Ekaristi, dan  mengintensifkan pendampingan rohani bagi mereka dengan harapan bisa memperbaiki perilaku hidup dan menjadi manusia yang baik di kemudian hari.

  1. Penutup

Dunia modern yang semakin dewasa ini tengah mengikis rasa kepekaan dan rasa kepedulian terhadap sesama khususnya untuk melayani orang miskin. Akibatnya banyak orang khususnya orang-orang miskin mengalami kegetiran dalam menghadapi realitas hidup ini.Pelayanan yang dilakukan oleh para katekis tentu tidak sama dengan pelayanan yang dilakukan banyak kalangan umat biasa dewasa ini. Seperti masyarakat pada umumnya, katekis dewasa ini juga bekerja demi menopang hidup mereka, maka tidak mengherankan bila ada katekis yang menginginkan untuk menjadi PNS. Imbalan dari pelayanan itu tetap perlu hanya saja jangan sampai setiap pekerjaan selalu ada imbalannya.

Seorang katekis harus memiliki cara hidup sama seperti cara hidup Rasul yang awalnya berasal dari Tuhan, yaitu sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Sebagai Iman, katekis merupakan panggilan dan perutusan di tengah-tengah dunia untuk menguduskan sesama, masyarakat, lingkungan hidupnya. Panggilan dan perutusan ini melekatkan diri kepada setiap orang secara pribadi maupun sesama. Perekat utamanya adalah sakramen pembaptisan. Melalui sakramen baptis setiap orang dimasukan ke dalam anggota Gereja sebagai Tubuh Kristus. Sebagai Nabi, Yesus mewartakan apa yang benar yang berada dari Allah Bapa-Nya (Yoh. 8:26), maka sebagai seorang katekis juga harus seperti Yesus dan para Rasul-Nya. Sebagai Raja, merupakan tugas perutusan untuk melayani. Pelayanan yang dilakukan oleh Yesus harus dilakukan oleh para katekis, karena itu merupakan dorongan dan kekuatan yang menggerakkan setiap orang dalam kebersamaan demi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang. Zaman sekarang telah berubah dan semakin maju, sehingga kita sebagai manusia yang ada di dalamnya juga berubah seiring perkembangan begitupun juga Gereja, mengalami perubahan dan perkembangan.

Pada zaman sekarang spiritualitas dan teladan hidup Tuhan telah menjadi inspirasi bagi katekis untuk melayani orang-orang miskin karena beberapa alasan: orang-orang miskin sangat membutuhkan pendampingan, perhatian, dan pelayanan. Dunia yang serba modern, canggih, dan instan pada zaman sekarang ini menjadi penyebab semakin sedikit orang memiliki jiwa sosial bahkan cuek, egoisme untuk kepentingan diri sendiri namun hal itu tidak terjadi dalam diri para katekis sebab mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi sehingga mereka rela menyisihkan uang mereka untuk membantu orang miskin melalui SSV baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun di Gereja. Melayani orang miskin atau kecil berarti juga melayani Tuhan sendiri. Pelayanan dengan kasih ialah pelayanan yang tidak mengharapkan imbalan dan pelayanan yang membebaskan orang dari ketidak berdayaan dan keterpurukkan akan kondisi sosial, ekonomi, mengalami sakit, dan rindu akan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno. 2004. Pelayanan Pastoral Kepada Orang Sakit. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.

Barth, Marie Claire. 2006. Kitab Mazmur 1-72 Pembimbing dan Tafsirannya. Jakarta: Gunung Mulia

Bergant, Dianne. & Karris, Robert J. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius

Adepey, Bernard T. 2000. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius

Budianto, Sad Antonius. 2009. Ia Membuat Segalanya Menjadi Baik. Malang: Lumen Christi.

Wijaya, Albert I Ketut Deni. 2006. Roh Kudus dan Perutusan Gereja Menurut Ad Gentes serta relevansinya bagi Hidup Katekis. STKIP Widya Yuwana Madiun: Tidak diterbitkan.

Kotan, Daniel Buli (ed). 2005. Identitas Katekis di Tengah Arus Perubahan Zaman. Jakarta: Komisi Kateketik KWI

Komkat Keuskupan Padang. 1988. Spiritualitas Sang Katekis. Padang: Komisi Kateketik Keuskupan Padang

Komkat KWI.1997. Pedoman untuk Katekis. Yogyakarta: Kanisius

Keene, Michael. 2007. Seri Access Guides Yesus. Yogyakarta: Kanisius

Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: remaja Rosdakarya

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif. Jakarta: Graha Ilmu

Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Matius.Yogyakarta: Kanisius

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius

Thompson, Millburn. 2009. Keadilan dan Perdamaian, Tanggung Jawab Kristiani dalam Pembangunan Dunia. Jakarta: Gunung Mulia

Prasetya .1999. Panduan Untuk Calon Baptis Dewasa. Yogyakarta: Kanisius

Prasetya.dkk. 2007. Panduan Tim Kerja Pewartaan Paroki. Yogyakarta: Kanisius

Prasetya. 2007. Menjadi Katekis Siapa Takut.Yogyakarta: Kanisius

Widyatmadja. Yosef, P. 2010. Yesus dan Wong Cilik. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia.

Widagdo, Rochadi. 2003. Meditasi itu Keheningan. Yogyakarta: Kanisius.