PERSEPSI ORANG MUDA KATOLIK PAROKI MATER DEI TENTANG MERAYAKAN HARI MINGGU SEBAGAI HARI TUHAN

Karnan Ardijanto, Don Bosco
Dosen STKIP Widya Yuwana Madiun

Abstract:

Sunday was a very special day to get together with our brothers and sisters in the Church, to give thanks to God and the memory of the passion, resurrection and glory of the Lord Jesus. In addition, Sunday is recommended as a day to develop the piety of the faith ful, as a day of excitement and a day free from work. There is a reason that is not the right of the people to go to church on Sunday or not. First, they come out of habit. Second, there are people who think that they can pray better if done at home alone, so no need to go to church on Sundays. Of these concerns, researched “Youth Perceptions of Mater Dei Catholic Parish of Celebrating Sunday as the Lord’s Day”. In particular, the research carried out at Mater Dei parish Madiun. Results using qualitative methods. The purpose of this paper is to understand the meaning of the celebration of Sunday. Knowing the young people’s perception of Mater Dei Catholic parish on Sunday celebration. Knowing the various forms or ways Catholic Youth Mater Dei parish celebrated Sunday.
          From the results it can be concluded that the people of Mater Dei Catholic parish actually been very understanding about the meaning of Sunday and the activities of Catholics on Sunday to go to church, it’s just that there are a few do not realize to follow the activities of the Church on Sundays.
 Keywords: youth perceptions, Sunday, parish

asuhan, orang sakit, orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental atau berkebutuhan khusus, rekoleksi, retret, seminar dengan topik-topik perdamaian, diskriminasi, keadilan, kemiskinan, isu-isu sosial atau isu-isu moral, dsb.

Darmawijaya (1990:22) menjelaskan hari Minggu juga bisa dimanfaatkan untuk pertemuan keluarga. Pada kesempatan seperti ini seluruh anggota keluarga bisa berkumpul bersama mengadakan kegiatan, entah memasak, membersihkan rumah, keluar bersama. Hari Minggu juga bisa digunakan untuk mengunjungi teman yang sedang sakit atau menerima tamu. Katekismus Gereja Katolik (KGK) artikel 2184 menjelaskan tentang hari gembira dan hari istirahat: “Sebagaimana Allah berhenti pada hari ketujuh, setelah Ia menyelesaikan seluruh pekerjaan-Nya”, demikianlah kehidupan manusia mendapat iramanya melalui pekerjaan dan istirahat. Adanya hari Tuhan memungkinkan bahwa semua orang memiliki waktu istirahat dan waktu senggang yang cukup untuk merawat kehidupan keluarganya, kehidupan kultural, sosial, dan keagamaan”.
Hari Minggu berarti hari istirahat dari pekerjaan selama enam hari. Hari Tuhan adalah pertama-tama hari ibadat. Tujuan hari Minggu ialah hari berkumpul untuk berdoa bersama dan saling meneguhkan dalam iman. Kewajiban menghormati hari Minggu bukan soal hukum atau perintah Gereja di atas hanyalah rumusan yang sudah menjadi kebiasan dan kesadaran umat Katolik mengenai kehidupan bersama sebagai jemaat. Dengan mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu, orang Katolik menyatakan diri sebagai anggota jemaat.
III. Orang Muda Katolik
 3.1 Pengertian Orang Muda Katolik
Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda KWI tahun 1986 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang muda adalah mereka yang berusia 13-35 tahun dan belum menikah, sambil memperhatikan situasi dan kondisi setempat. KWI menekankan bahwa Orang Muda Katolik secara lebih luas dibandingkan dengan muda-mudi Katolik. Yang dimaksud orang muda adalah mereka yang masuk mulai dari kelompok remaja (usia SLTP) hingga kelompok muda karya (Supriyadi, Agustinus. 2012: 5-6).
Berbagai alasan dari Orang Muda Katolik untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja karena mereka lebih mementingkan kegiatan lain dari pada kegiatan Gereja. Mereka lebih mementingkan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan ikut kegiatan di sekolah dari pada merayakan hari Minggu. Kenyataanya Orang Muda Katolik sangat sulit untuk mempertanggungjawabkan imannya untuk mengikuti berbagai kegiatan di Gereja (Supriyadi, Agustinus. 2012: 6-7).
Mangunhardjana (1986: 12-16), mengatakan sebagai orang muda, Orang Muda Katolik juga mengalami perkembangan sebagai orang muda pada umumnya. Banyak orang muda itu dalam masa perkembangan dan pertumbuhan. Mangunhardjana (1986:12-13), mengatakan bahwa pertumbuhan fisik merupakan gejala yang paling nampak pada orang muda karena: pertumbuhan fisik tersebut anak laki-laki makin menampilkan dirinya sebagai seorang pria dan anak perempuan sebagai wanita. Bersamaan dengan pertumbuhan fisik orang muda juga mulai menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan seks dan pergaulan dengan lawan jenis.  Pada umur muda itu mereka sudah cukup besar, tetapi belum siap benar memasuki pergaulan. Secara biologis mereka sudah cukup untuk pengalaman seksual, tapi belum sanggup bertanggung jawab dalam kehidupan perkawinan.
Mar’at Samsunuwiyati (2005:190-227) juga mengatakan bahwa perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologis. Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Organ-organ seks dan kemampuan reproduktif bertumbuh dengan cepat. Mangunhardjana (1986: 13) mengatakan perkembangan mental nampak pada gejala-gejala perubahan dalam perkembangan intelektual dan dalam cara berpikir. Hal ini kelihatan pada kata-kata yang mereka ucapkan dan pertambahan kosakata yang mereka pergunakan. Mereka mulai berpikir secara kritis. Perkembangan kognitif masa remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya. Mangunhardjana (1986: 13-14) juga mengatakan bahwa perkembangan emosional orang muda juga ada hubungannya dengan perkembangan fisik. Perkembangan emosional nampak pada semangat mereka yang perpindahan gejolak hati yang cepat, muncullah sikap masa bodoh, keras kepala, dan tingkah laku yang tidak baik.
Masalah yang dihadapi orang muda di sekitar perkembangan emosional adalah bagaimana menilai baik-buruknya emosi dan bagaimana menguasai dan mengarahkannya. Remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas, dan mudah merasa kecewa. Mangunhardjana (1986: 14) mengatakan bahwa perkembangan sosial orang muda menyangkut perluasan jalinan hubungan dengan orang lain. Perkembangan kehidupan sosial remaja juga ditandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman-teman sebaya mereka.
Rasa percaya diri ini menimbulkan kesanggupan pada diri remaja untuk melakukan penilaian terhadap setiap perilaku yang dibuatnya. Pada masa ini pula remaja secara bertahap dapat menemukan jati dirinya secara sadar bahwa dirinya senantiasa berada bersama dengan orang lain.
Mangunhardjana (1986: 14-15) berpendapat bahwa perkembangan moral membawa orang muda ke dalam tingkat hidup yang lain daripada masa sebelumnya: Pada masa kanak-kanak, bagi mereka hidup ini terasa sederhana. Ada hal-hal yang jelas-jelas benar dan salah. Dengan bertambahnya umur dan masuk dalam kelompok orang muda, para muda-mudi mengalami perubahan sikap. Dengan bertambahnya pergaulan, orang muda melihat bahwa pandangan orang mengenai apa yang baik dan benar tidak sama. Masalah-masalah moral itu tidak hanya terbatas pada diri mereka, tetapi meluas sampai pada masalah moral dalam hidup masyarakat, seperti: kejahatan dalam masyarakat, keadilan, hak-hak asasi manusia, kebebasan agama, kepentingan umum, dan peranan yang diharapkan dari mereka.
Mangunhardjana (1986: 15-16) mengatakan bahwa perkembangan religius menyangkut hubungan dengan Yang Mutlak karena pada umur-umur menjelang dewasa, praktek, ajaran, bahkan Yang Mutlak sendiri dipertanyakan. Hal itu bukan karena mau memberontak, tetapi mau memperoleh kejelasan dari masalah tersebut. Dengan berbagai cara, entah lewat pertanyaan atau sengaja tidak menjalankan lagi praktek-praktek keagamaan yang sudah biasa dilakukan, mereka mau mengetahui segi-segi yang paling dalam tentang Yang Mutlak, hubungan-Nya dengan manusia dan dunia, peranan-Nya dalam hidup sekarang, dan yang akan datang.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1976:375) mengartikan iman sebagai suatu kepercayaan, atau keyakinan kepada Allah dengan ketetapan hati dan keteguhan batin. Iman merupakan kepercayaan yang menuntut penyerahan diri kepada Tuhan. Darmawijaya (1994:10) mengatakan bahwa iman berkenaan dengan agama dan tumpuan sikap. Tumpuan sikap itu adalah yang ilahi. Iman  adalah penyerahan diri secara pribadi kepada Allah, serta tanggapan yang bebas dan bertanggung jawab terhadap wahyu Ilahi.
Perkembangan iman merupakan perubahan dalam memahami, menghayati dan mewujudkan sikap penyerahan diri kepada Tuhan sebagai tumpuan sikap hidup. Perkembangan iman menyangkut hubungan dengan yang transenden dan illahi, yaitu Allah. James W. Fowler dalam buku Dr. A. Supratiknya (1995:32) mengatakan bahwa kaum muda mulai merefleksikan riwayat hidupnya guna mencari suatu sintesis baru yang sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami dalam hidupnya. Dalam usaha sintesis baru dalam hidupnya orang muda lebih tertarik dengan sesuatu yang sesuai dengan pandangan orang lain atau masyarakat.
  1. Hasil Penelitian Dari Persepsi Orang Muda Katolik Paroki Mater Dei Tentang Merayakan Hari Minggu Sebagai Hari Tuhan
Ringkasan hasil penelitian ini berkaitan dengan 7 (tujuh) item penelitian, yaitu: Pertama, makna hari Minggu menurut ajaran Gereja; Kedua, istilah hari Minggu sebagai hari Tuhan; Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada hari Minggu; Keempat, mengapa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut pada hari Minggu atau hari Tuhan; Kelima, pada hari Minggu pernah melakukan kegiatan-kegiatan: pertemuan-pertemuan Gereja, amal kasih, kunjungan orang sakit, dan ke panti asuhan; Keenam, apakah sering mengikuti perayaan hari Minggu di Gereja.
Sebagian responden belum menyatakan makna hari Minggu menurut ajaran Gereja. Responden hanya mengerti bahwa hari Minggu sebagai hari Ekaristi dan sebagai hari Gereja. Ternyata dari jawaban responden tersebut  sebenarnya mereka belum menjawab teologi atau makna hari Minggu dengan benar, hanya terjawab dua bagian yaitu hari Minggu sebagai hari Ekaristi dan hari Minggu sebagai hari Gereja saja. Jadi, bisa disimpulkan bahwa semua responden belum mengerti tentang makna hari Minggu menurut ajaran Gereja.
Berdasarkan data penelitian tentang istilah hari Minggu sebagai hari Tuhan, dapat dikatakan bahwa seluruh responden belum pernah mendengar tentang istilah hari Minggu sebagai hari Tuhan. Tiga (3) orang responden menghubungkan hari Minggu sebagai hari Tuhan dengan kisah penciptaan yakni hari ke-7 Tuhan beristirahat. Tentu saja pendapat ini tidak tepat atau keliru, karena hari Minggu sebagai hari Tuhan bermula dari peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus. Hari Minggu sebagai hari Tuhan bertitik tolak dari hari kebangkitan Tuhan pada hari pertama atau hari kedelapan dalam Minggu, sedangkan hari ke-7 sebagaimana dimaksudkan adalah hari Sabat/Sabtu dalam tradisi Yahudi.
Ada 7 orang responden menghubungkan hari Minggu sebagai hari Tuhan dengan kegiatan ibadah khususnya merayakan Ekaristi di Gereja. Satu (1) orang responden mengatakan hari Minggu sebagai hari Tuhan juga digunakan sebagai hari pertemuan keluarga dan melakukan kegiatan amal kasih. Semua responden sangat mengerti tentang istilah hari Minggu sebagai hari Tuhan. Walaupun ada beberapa responden yang menghubungkan hari Minggu sebagai hari Tuhan dengan kisah penciptaan dan kurang tepat.
Seluruh responden menyatakan pernah mengikuti kegiatan-kegiatan Gereja dan kegiatan amal kasih. 4 orang responden mengatakan: persekutuan, pendalaman Kitab Suci, doa Rosario atau kegiatan rohani, mengunjungi orang sakit, berkunjung ke panti asuhan, memberi pakaian dan kebutuhan pokok bagi orang yang berkekurangan atau kegiatan amal kasih. 4 orang responden mengatakan: mengikuti pertemuan Gereja, mengunjungi orang sakit dan panti asuhan. 2 orang responden mengatakan: belum pernah ikut pertemuan Gereja, mengunjungi orang sakit dan panti asuhan, dan yang lainnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden sudah pernah mengikuti pertemuan Gereja, kegiatan amal kasih seperti kunjungan ke rumah sakit dan panti asuhan, dan hanya beberapa saja yang belum pernah sama sekali.
  1. Kesimpulan
Responden secara umum sudah mengerti makna hari Minggu menurut ajaran Gereja Katolik, yakni hari Minggu sebagai hari Ekaristi dan hari Minggu sebagai hari Gereja. Responden sudah mengerti tentang istilah hari Minggu sebagai hari Tuhan, namun  ada yang mengatakan kurang tepat karena menghubungkan dengan hari ke-7 kisah penciptaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak responden mengerti tentang kegiatan-kegiatan orang Katolik pada hari Minggu selain merayakan Ekaristi di Gereja, yaitu melakukan kegiatan rohani dan amal kasih seperti: ikut kegiatan Gereja (kegiatan rekat, misdinar, latihan koor, ziarah, retret, kegiatan OMK, doa lingkungan, ke Gereja), mengunjungi orang sakit, mengunjungi panti asuhan. Hanya beberapa responden yang belum pernah sama sekali mengikuti kegiatan di Gereja dan kegiatan amal kasih pada hari Minggu.
DAFTAR PUSTAKA
 Dokumen Gereja:
Hardawiryana, R. (Terj). 1993. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor.
KWI. 1995. Katekismus Gereja Katolik (Herman Embuiru,  Penerjemah). Ende: Percetakan Arnoldus.
KWI. 1996. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius.
KWI. Dies Domini (Hari Tuhan). 1998. Jakarta: KWI.
KWI. 1989. Tata Perayaan Sabda Hari Minggu dan Hari Raya. Yogyakarta: Kanisius.
KWI. 2006. Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici) terj. Jakarta: Obor.
KWI. 1986. Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius.
 Buku:
Connolly, Finban. 2004. Sepuluh Perintah Allah Dan Orang Kristen Masa Kini. Jakarta: Obor.
Dariyo, Agoes. 2003. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT. Gramedia Wididsarana Indonesia.
Da Cunha, Bosco. 2011. Memahami Perayaan Liturgi Sepanjang Satu Tahun. Jakarta: Obor.
Darmawijaya, St. 1994. Hari-Hari Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius.
Depdiknas. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: Depdiknas RI.
Kartini-Kartono. 1990. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: Cv. Mandar.
Karnan Ardijanto, Don Bosco. 2012. Remaja dan liturgi: Perayaan Ekaristi Hari Minggu Di Paroki dan Perkembangan Hidup Rohani Kaum Remaja: Sebuah Peluang. Madiun: Wina press.
Kleden, Stephie.2014. “Mengungkap Fakta Perselingkuhan” dalam Kana 04 tahun IX.Malang: Lembaga Pendampingan Kehidupan Keluarga (LPKK) SVD Provinsi Jawa.
Mangunhardjana. 1986. Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius.
Martasudjita. 2002. Spritualitas Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikologi Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong. 2005. Metode Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Patampang, Carol. 2009. Formasi Dasar Orang Muda Untuk Remaja Setingkat SMA. Yogyakarta: Kanisius.
Supriyadi, Agustinus. 2012. Jurnal Pendidikan Agama Katolik: Kaum Muda Katolik, Evangelisasi, dan Kitab Suci. Madiun: Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu pendidikan “Widya Yuwana”.
Singgih, Wibowo. 2012. Remaja dan liturgi: Sumber Daya Insani Menyongsong Kemandirian Bangsa Indonesia. Madiun: Wina press.
Suharyo, Ignatius. 2009. The Catholic Way. Yogyakarta: Kanisius.
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
Supratiknya. 1995. Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Tangdilintin, Philips. 2008. Pembinaan Generasi Muda. Yogyakarta: Kanisius.